Ketika Hasrat Eropa Mengubah Takdir Nusantara

5 hours ago 9

Image Daffa Adnan

Sejarah | 2026-06-26 18:14:07

Ilustrasi Portugis Datang Ke Maluku, Sumber (Gemini AI)

Pendahuluan

Pada abad pertengahan, Eropa begitu menyedihkan bila dilihat dengan Eropa pada abad saat ini. Mereka sama sekali tidak mengenal apa itu sensai rasa pedas, gurih, hingga aromaits, mereka hanya dapat merasakan rasa asin garam pada setiap makanan yang mereka miliki. Betapa menyedihkannya makanan yang telah mereka konsumsi, begitulah rendahnya taraf kehidupan pada masa itu. Hingga akhirnya mereka mulai mengenal rempah yang dapat memberikan sensasi yang begitu menggairah kepada mereka, dengan permintaan yang begitu tinggi membuat peremintaan akan rempah meningkat.

Mendengar kata erotis tidak akan jauh pada pengertian vulgar, namun erotis di sini lebih dari sekedar pengertian yang biasa kita dengar saat ini. Sejarah mencatat bahwa kolonialisasi yang dilakukan orang Eropa terhadap wilayah-wilayah Nusantara, terjadi karena sumber daya alam yang sangat diincar oleh kalangan orang Eropa. Yaitu rempah yang hanya dapat tumbuh di Asia Tenggara, lebih tepatnya pada sebuah kepualauan kecil di Maluku yakni Ternate dan Tidore.

Tetapi alasan ekonomi saja kurang menggambarkan faktor penyebab imperialis terjadi, jika faktornya disebabkan hanya karena kebutuhan ekonomi maka penjajahan yang dilakukan tidak akan berjalan secara brutal. Dilihat dari bagaimana bangsa Eropa begitu menginginkan sumber daya rempah di tanah jajahannya, dengan memonopoli ekonomi rempah di tanah jajahannya tanpa memandang keberlangsungan hidup jajahannya membuat bangsa Eropa merauk keuntungan yang begitu besar dengan bayaran yang tak sepadan. Kemudian dengan melihat segala kekejaman yang terjadi di setiap jajahan, begitu kurang bahwa alasan terjadinya imperialis disebabkan hanya karena kebutuhan ekonomi semata.

Erotisme Orang Eropa

Kehidupan orang-orang Eropa di abad pertengahan begitu terisolasi dari dunia global, yang disebabkan karena runtuhnya kekasisan Romawi mengakibatkan koneksi dengan luar benua tertutup atau cukup sulit untuk dijangkau. Keterisolasian itu mengakibatkan medis serta kuliner Eropa tidak mengalami kemajuan apapun, dalam hal makanan Eropa hanya mengandalkan daging, roti, serta sayuran lokal yang sedikit akan rasa dan begitu hambar. Mereka hanya dapat mengandalkan garam sebagai penyedap rasa yang hambar, hingga pada akhirnya mereka mendapatkan rempah yang menciptakan rasa yang begitu kaya.

Dalam hal medis Eropa juga tidak luput dengan rempah, mereka mengannggap bahwa rempah merupakan obat yang bisa menyelamatkan nyawa. Eropa pada masa itu cukup depresi akibat banyaknya penyakit yang menjangkit, kesulitan sekaligus depresi yang mereka alami inilah yang membuat rempah begitu diterima seakan rempah adalah penyelamat dari setiap penyakit yang mereka alami. Setelah rempah diperkenalkan oleh pedagang Arab mulai banyak orang Eropa yang menggunakan rempah sebagai obat dari segala penyakit yang diderita, hingga pada akhirnya rempah mulai diminati sangat banyak orang selain memperkaya rasa rempah juga menjadi obat penyelamat nyawa.

Erotisme mulai bekerja di sini, erotisme dalam rempah adalah obsesi yang begitu tinggi terhadap sensasi gairah yang membuat pikiran menjadi tidak rasional. Kasus di sini ketika orang Eropa menganggap rempah lebih berkelas dibanding yang lain, siapapun yang memiliki rempah maka dia akan dianggap memiliki kekayaan, berkelas tinggi, sekaligus memiliki koneksi dengan dunia luar. Akibat permintaan yang begitu tinggi membuat pedagang Arab yang menjual rempah ke Eropa menjadi kaya, mereka juga memasang harga yang begitu tinggi untuk mendapatkan keuntungan yang sangat menjanjikan.

Di situ lah awal bangsa Eropa mulai melakukan ekspedisi penjelajahan ke dunia baru, mereka ingin mendapatkan rempah secara langsung tanpa lewat perantara pedagang Arab dan juga Venesia yang telah memonopoli rempah lebih dulu. Colombus atas perintah raja spanyol mengambil langkah memulai ekspedisi ke barat menuju benua Amerika, namun hasilnya cukup jauh dari kata berhasil. Dilanjutkan dengan Vasco da Gama yang berlayar ke timur menuju India (belum sampai ke Asia Tenggara), mengawali keberhasilan penjelajahan ke dunia baru. Hingga penjelajahan yang dilakukan oleh petualang Italia Lodovico de Varthema yang melihat perkembangan yang luar biasa dari kerajaan Eropa pertama di Asia yaitu Portugis. Sampai pada Tome Pires melalui Suma Orientalnya yang menulis tentang kepulauan Maluku pada saat dirinya berada di Malaka.

Rempah Adalah Emas Maluku

Kita telah melihat bagaimana hasrat yang begitu tinggi menciptakan keinginan yang begitu irasional, membuat mereka rela memberikan nyawa hanya demi mendapatkan sebuah bumbu rempah. Keinginan akan ekonomi saja tentu tidak akan membuat mereka rela melakukan hal sesatu yang bertolak dari akal, tetapi akibat obsesi yang begitu parah akan rempah menjadikan sesuatu yang irasional menjadi rasional bagi mereka.

Lantas bagaimana keadaan Asia Tenggara pada masa ekspedisi penjelajahan yang dilakukan Eropa berabad-abad yang lalu? Apakah mungkin orang-orang Nusantara termasuk di sini yang lebih mendapatkan layar adalah Maluku, telah memiliki sistem ekonomi rempah nya sendiri? Tentu saja Maluku telah mengetahui bahwa komoditas mereka cukup diminati oleh orang-orang barat khusunya Eropa, bisa dilihat dari tulisan Jack Turner dalam buku Sejarah Rempah bahwa Maluku merupakan kepulauan yang begitu kecil hingga jika dilihat dari jauh terlihat seperti topi zamrud penyihir di atas samudra. Walaupun Maluku dianggap sebagai kepulauan kecil, mereka tetaplah penghasil rempah utama bagi bangsa Eropa serta dunia. Sebab hanya di kedua pulau di Maluku yaitu Ternate dan Tidore lah yang menghasilkan rempah begitu banyak setiap tahunnya, diikuti dengan beberapa kepualauan kecil seperti Motir, Makian, dan Bakan.

Tome Pires di buku Suma Oriental menyebutkan bahwa rempah yang dihasilkan oleh kelima pulau tersebut mencapai 6 hingga 7 ribu bahar cengkeh yang setiap cengkehnya bernilai cukup tinggi sekitar 500 reis atau 1 Cruzido emas untuk satu bahar rempah, harga yang sangat murah bagi orang Eropa atau tepatnya Portugis yang pada sat itu mengambil rempah di kepulauan Maluku. Penghasil rempah yang paling banyak berada di Ternate yang selama setahun dapat menghasilkan 100 hingga 150 bahar cengkeh, hasil rempah yang diperoleh begitu banyak karena Ternate memiliki 6 kelompok pohon cengkeh yang dapat dipanen hinga enam kali atau bahkan lebih selama setahun. Jika Ternate adalah pemanen rempah yang paling banyak, Tidore berkebalikan, walau pulau tersebut juga menghasilkan rempah tetapi yang lebih dominan adalah Tidore merupakan penghasil bahan makanan terbesar di Maluku.

Diikuti dengan ketiga pulau kecil di Maluku yaitu Motir, Makian, serta Bakan. Merka adalah penghasil rempah yang tidak begitu besar jika dibandingkan dengan Ternate, namun tetap saja kita tidak bisa meninggalkan peran ketiga pulau tersebut dalam menghasilkan rempah untuk menjadi komoditas utama di Maluku. Yang disayangkannya adalah konflik internal yang terjadi di dalam kesultanan Ternate dan Tidore, sejak dahulu mereka bermusuhan walau mereka memiliki ikatan saudara.

Maluku bukanlah pulau yang terisolasi dari dunia luar, mereka telah menjalin perdangan dari berbagai negara dengan melewati dua jalur yakni utara dan selatan. Dalam penjelasan Tome Pires bahwa dua jalur tersebutlah yang menghubungkan jalur perdagangan dunia luar dengan Maluku, setiap negara memiliki jalur yang mereka sukai terutama jalur selatan yang begitu digemari oleh para pedagang Melayu karena mereka selalu berhenti di setiap pelabuhan Jawa untuk menjual dagangan Malaka dan Portugis yang melewati jalur utara karena tidak perlu transit di berbagai pelabuhan (ini dikarenakan misi Portugis yang fokus untuk mencari Maluku). Bahkan jaringan perdagangan Maluku menyambung dari jalur Malabar, Teluk Persia, Jazirah Arab, sampai pada akhirnya komoditas ini tiab di Mediterania lewat Alexandria dan Venesia.

Yang menariknya bahwa tidak ada satupun yang mengetahui rantai jalur tersebut, yang membuat rempah menjadi sebuah "kemisteriusan" dikalangan penjual dan orang Eropa yang mulai mengetahui bahawa sebuah bumbu rempah begitu eksis. Bahkan Jack Turner di sini lebih dijelaskan bahwa alasan mengapa orang Eropa menganggap rempah sebagai bahan yang berasal dari surga, adalah ketika mereka mengaitkan kedatangan rempah yang melewati sungai Nil begitu sampai menuju Alexandria. Menurut kitab kejadian bahwa sungai Nil bersumber dari air mancur taman Firdaus, inilah yang mengakibatkan rempah dikaitkan dengan sifat religius orang Eropa pada masa itu. Dengan teknik pemasaran yang begitu khas abad pertengahan juga berperan penting di sini, dengan mengaitkan rempah yang berasal dari tepat jauh yang bahkan segelintir orang Eropa menganggap rempah berasal dari surga menjadikan nilai rempah begitu tinggi.

Hasrat Yang Berubah Menjadi Penaklukan

Di sini kita tidak akan melihat bagaimana awal terjadinya protugis masuk hingga VOC datang menguasai Nusantara, tetapi melihat bagaimana sebuah motif "religius" menjadi tameng dari segala kekejaman yang telah dilakukan selama masa penjajahan oleh orang Eropa. Selain dalam kebutuhan ekonomi yang mendasar ada sebuah justifikasi moral yang menjadikan imperialis ini sebagai bentuk pembenaran bagi Eropa, tentu saja ini menyangkut motivasi mereka yaitu 3G (Gold, Glory, Gospel) yang selalu diagungkan oleh bangsa Eropa. Mereka tidak hanya cukup untuk mendapat keuntungan yang begitu besar di dalam pasar, tetapi juga memonopoli sumber daya secara langsung dengan menggunakan tangan besi. Akibat hasrat yang begitu besar terhadap rempah, menciptakan pendorong untuk melakukan kolonialisasi.

Portugis merupakan yang pertama dalam melakukan penjajahan terhadap Maluku, dengan memanfaatkan keinginan raja Ternate pada saat itu yakni Sultan Bem Acorala yang berada dalam tulisan Tome Pires yang mencoba untuk bekerja sama dalam bidang ekonomi. Portugis tidak berhenti sampai situ saja, mereka juga mulai membangun benteng sekaligus memperkuat pertahanan untuk menjaga jalur rempah Portugis di Maluku. Portugis juga menanam politik di dalam baris kesultanan Ternate, dengan motif awal mereka adalah untuk memonopoli rempah. Hingga pada akhirnya kekejaman Portugis terlihat pada saat mereka mulai ikut campur dalam urusan suksesi serta pemerintahan internal Ternate, yang paling terlihat adalah pembunuhan Sultan Khairun akibat berhasil membawa kejayaan untuk Ternate.

Tentu saja sama seperti halnya Spanyol yang menjalin kerja sama dengan Tidore, dengan berbeda kepentingan Spanyol yang ingin bekerja sama dalam perdagangan sekaligus mencoba mengintervensi kesultanan serta sultan Tidore yang mencoba mencari kerkuatan asing dalam persaingan nya dengan kerajaan Ternate. Puncak ketegangan konflik ini adalah ketika Portugis mencoba mengambil alih Tidore dari tangan Spanyol, yang pada akhirnya persaingan kedua kerkuatan Barat ini berdiri di atas konflik internal Ternate dan Tidore. Sampai pada akhirnya perjanjian tordesillas 1494 memisahkan batas wilayah jajahan Portugis dan Spanyol, yang mirisnya dalam perjanjian ini tidak dilibatkan Ternate dan Tidore yang merupakan wilayah berpenghuni dengan kekuasaan sendiri tidak dilibatkan dalam perjanjian tersebut.

Hal yang terjadi dalam persaingan Portugis dengan Spanyol di kepulauan Maluku yakni pada Ternate dan Tidore, merupakan hasil dari obsesi yang begitu besar untuk menguasai rempah secara penuh. Mereka tidak memandang bagaimana kehidupan yang berada didekat mereka berada, bahkan mereka tidak akan segan utnuk membunuh penduduk lokal bila tidak mematuhi perintah mereka. Kalau saja rempah hanya menjadi kebutuhan ekonomi semata, maka imeprialis yang dilakukan bangsa Eropa tidak akan berjalan sebrutal itu. Begitupun dengan Inggris dengan East India Company yang selalu tidak berhasil untuk menguasai secara penuh, mereka berjanji kepada sultan Babu yang memimpin Ternate pada masa itu dengan memenuhi laut dengan kapal-kapal. Namun sayangnya dalam penjelasan Jack Turner bahwa janji itu tidak dipenuhi sepenuhnya, mengakibatkan lemahnya intervensi Inggris di Maluku.

Berbeda dengan Belanda yang memiliki VOC membuat Inggris mulai tergeserkan dari Maluku, bahkan Jack Turner menulis tentang terjadinya konflik terhadap Belanda yang mulai tidak menyukai karyawan Inggris yang berada di Ambon. Tragedi itu dinamakan tragedi Amboyna yang dimana pada 16 Februari 1623, karyawan Inggris yang berad di Ambon dibunuh masal oleh Belanda. Dengan Belanda yang mulai mendominasi Hindia Timur dengan VOC, membuat rivalitas antara bangsa Eropa berakhir.

Relevansi Pada Masa Kini

Jika dilihat dari lima abad yang lalu bahwa Eropa memiliki keberanian untuk mempertaruhkan kapal dan juga harta hanya demi mendapatkan cengkih yang hanya tumbuh di pulau kecil Ternate, ini menunjukkan bahwa nafsu seperti itu bagi Jack Turner kedengarannya nyaris seperti rasa birahi yang mendominasi dari pada rasa kaingin tahuan terhadap rempah. Ini tidak bergerak dengan alsan dari setiap faktor yang dialami Eropa pada abad itu, dari awal keinginan untuk menciptakan rasa yang lebih kaya hingga bergerak dengan hasrat untuk bisa menguasai sumber daya secara langsung. Tentu saja jika tidak dengan fantasi yang berkembang pada masa itu dengan cerita kemisteriusan datangnya rempah yang dipercaya berasal dari surga, rempah tidak akan memiliki daya tarik yang begitu tinggi sehingga imperialis tidak akan tumbuh menjadi sesuatu yang begitu kejam.

Ini memunculkan satu pertanyaan, apakah hasrat dari orang Eropa itu sudah selesai? Rasanya belum selesai begitu mudah, mereka hanya mengubah kulit saja dengan era saat ini.

Yang terlihat saat ini adalah sawit yang dimiliki Indonesia memasok hampir separuh kebutuhan minyak nabati untuk dunia, diikuti dengan nikel yang terdapat di Sulawesi dan juga Maluku Utara yang menjadi incaran berbagai negara seperti Cina yang terus mengembangkan baterai untuk kebutuhan produksi mobil listrik mereka. Bahkan batu bara terus-menerus digali di Kalimantan yang padahal saat ini beberapa orang sedang gencar untuk mengakmpanyekan soal transisi energi, pola yangterlihat tetap sama namun hanya berubah wujud saja.

Bisa disimpulkan bahawa orang lua negeri masih memiliki hasrat yang begitu tinggi, yang berubah hanyalah kemasannya yang berganti dari rempah menuju sumber daya alam lainnya seperti nikel, sawit, dan batu bara. Jika dulu hasrat itu dibungkus dengan cerita fantasi dengan dunia ajaib dan eksotis, kini bungusnya berganti Bahasa menjadi investasi, hilirasi, serta rantai apsok global. Sayangnya Indonesia tidak bergeser jauh menjadi hanya sekedar pemasok bahan mentah, cukup jarang menjadi penentu harga apalagi pemegang rantai nilai dunia. Tentunya bagi pemerintah hal ini tidak mungkin dibiarkan, sebagai pemegang kendali terhadap bangsa pemerintah mencoba untuk membudidayakan bahan mentah seperti bijih nikel untuk diolah terlebih dahulu sebelum diekspor.

Menurut artikel jurnal yang ditulis oleh Jordy tentang Untangling Nickel Downstreaming: A Political Economy Analysis of Indonesia’s Morowali Industrial Park, menjelaskan tentang ironi yang dirasakan Indonesia seagai pemilik cadangan nikel terbesar bagi dunia sekitar setengah dari total cadangan global. Tetapi selama puluhan tahun Indonesia hanya menjadi tukang gali bahan mentah tanpa mengolah secara mandiri, kemudian menjual bahan mentah tersebut dengan harga murah dan membeli produk olahan dengan harga yang mahal dari luar negeri. Walaupun begitu, dalam aritikel jurnal yang ditulis oleh Jordy menyebutkan pada tanggal 1 Januari 2020 pemerintah melarang ekspor bijih nikel dan harus diolah terlebih dahulu di dalam negeri. Menciptakan proyek raksasa yang berada di Morowali, Sulawesi Tengah, lewat industry yang bernama IMIP (Indonesia Morowali Industrial Park).

Erotisme global terhadap kekayaan yang dimiliki oleh Nusantara hanya berganti ruang. Jika selama lima abad silam gudang rempah di Maluku menjadi tujuan utama, kini berubah ke bijih seperti nikel, batu bara, sekaligus kebun sawit. Rasa lapar yang dipertahankan orang-orang luar tetap sama, yang menjadi pertanyaan kembali yang belum terjawab adalah kapan giliran kita untuk menentukan harganya?

Penutup

Kembali untuk menatap lima abad yang lalu, orang Eropa hanya tahu cara meyelamatkan rasa makanan yang begitu hambar dengan menggunakan garam. Dari awal kekurangan sekecil itu menciptakan dorongan yang bgeitu besar, membawa mereka berlayar ribuan mil menuju dunia baru demia cita rasa yang begitu kaya. Mereka rela mengorbankan ribuan nyawa serta harta hanya demi sampai ke pulau-pulau kecil yang berada di Maluku, yang pada akhirnya mengubah secara cepat takdir Ternate dan Tidore untuk selamanya. Rempah bukan hanya sekedar bahan yang dicari oelh Eropa, tetapi rempah adalah jawaban sekaligus jalan keluar untuk merasakan sensai yang menggairah dari berbagai rasa makanan yang dahulu mereka makan dengan hambar.

Tentu hari ini rasa hambar itu telah menghilang di setiap meja makan orang Eropa, namun rasa lapar yang mereka alami belum benar-benar pergi. Mereka hanya mengganti kostum saja dengan era saat ini, yang menjadi fokus pertanyaannya adalah bukan lagi soal apakah mereka masih menginginkan kekayaan Nusantara, yang padahal sudah tentu jawabannya ya dan mungkin saja keinginan itu tidak akan berubah. Yang menjadi pertanyaan kepada kita adalah apakah kita sudah cukup untuk belajar dari apa yang dialami oleh Ternate dan Tidore, atau mungkin saja kita hanya Kembali mengulang kejadian yang sama tetapi dengan kostum dan era yang berbeda saja.

Daftar Pustaka

Jordy, J. (2025). Untangling nickel downstreaming: A political economy analysis of Indonesia's Morowali Industrial Park. International Journal Social and Political Sciences (IJSPS), 2(2), 150–161. https://doi.org/10.69812/ijsps.v2i2.136

Pires, T. (2025). Suma Oriental: Perjalanan bersejarah dari Mesir, Persia, India, Srilangka, Benggala, Siam, Champa, Cina, Jepang, Filipina, Sumatra, Jawa, Borneo, Maluku, Banda, hingga Malaka (Y. Santoso, Terj.). IRCiSoD. (Karya asli diterbitkan oleh Hakluyt Society, London, 1944)

Turner, J. (2011). Sejarah rempah: Dari erotisme sampai imperialisme (J. Absari, Terj.). Komunitas Bambu. (Karya asli berjudul Spice: The History of a Temptation, diterbitkan oleh Vintage Books, New York, 2005)

Oleh: Daffa Adnan Assyarof

Disclaimer

Retizen adalah Blog Republika Netizen untuk menyampaikan gagasan, informasi, dan pemikiran terkait berbagai hal. Semua pengisi Blog Retizen atau Retizener bertanggung jawab penuh atas isi, foto, gambar, video, dan grafik yang dibuat dan dipublished di Blog Retizen. Retizener dalam menulis konten harus memenuhi kaidah dan hukum yang berlaku (UU Pers, UU ITE, dan KUHP). Konten yang ditulis juga harus memenuhi prinsip Jurnalistik meliputi faktual, valid, verifikasi, cek dan ricek serta kredibel.

Read Entire Article
Berita Republika | International | Finance | Health | Koran republica |