Rafi Putra
Teknologi | 2026-07-14 11:03:18
Dpl: Reza Sarwo Widagdo, S.Tr.T., M.T
Kalau bicara soal masalah petani, kebanyakan orang langsung membayangkan harga gabah yang anjlok atau pupuk yang mahal. Jarang sekali ada yang menyoroti tikus sebagai musuh yang sebenarnya jauh lebih dekat dan lebih rutin menyerang. Padahal di banyak desa, termasuk Desa Raci Tengah, Kecamatan Sidayu, Kabupaten Gresik, tikus bukan gangguan musiman yang datang sesekali. Ia hadir hampir di setiap musim tanam, mengikis hasil panen sedikit demi sedikit sampai petani terbiasa menganggapnya sebagai bagian dari risiko bertani. Cara pandang semacam ini yang menurut saya justru berbahaya, karena masalah yang dianggap biasa itu, kalau dibiarkan terus-menerus, pelan-pelan menggerogoti sumber penghidupan utama masyarakat desa.
Kalau bicara soal masalah petani, kebanyakan orang langsung membayangkan harga gabah yang anjlok atau pupuk yang mahal. Jarang sekali ada yang menyoroti tikus sebagai musuh yang sebenarnya jauh lebih dekat dan lebih rutin menyerang. Padahal di banyak desa, termasuk Desa Raci Tengah, Kecamatan Sidayu, Kabupaten Gresik, tikus bukan gangguan musiman yang datang sesekali. Ia hadir hampir di setiap musim tanam, mengikis hasil panen sedikit demi sedikit sampai petani terbiasa menganggapnya sebagai bagian dari risiko bertani. Cara pandang semacam ini yang menurut saya justru berbahaya, karena masalah yang dianggap biasa itu, kalau dibiarkan terus-menerus, pelan-pelan menggerogoti sumber penghidupan utama masyarakat desa.
Raci Tengah adalah salah satu contoh nyata bagaimana ketergantungan pada sektor pertanian membuat gangguan sekecil apa pun berdampak besar. Sebagian besar warganya menggantungkan hidup dari lahan pertanian aktif yang luasnya diperkirakan mencapai 40 hektare, dengan padi dan palawija sebagai komoditas utama. Saya melihat sendiri bagaimana kelompok tani di sana sebenarnya sudah berusaha melawan serangan tikus, tetapi caranya masih itu-itu saja: racun dan pestisida. Masalahnya, cara ini tidak pernah benar-benar menyelesaikan persoalan. Racun memang membunuh sebagian tikus, tetapi populasi mereka berkembang biak lebih cepat daripada efek racun itu bekerja, sementara residunya mengendap di tanah dan berisiko mengganggu organisme lain yang justru dibutuhkan untuk menjaga keseimbangan ekosistem sawah. Artinya, petani sebenarnya sedang berputar di lingkaran yang sama tanpa pernah keluar dari masalah intinya.
Dari situ saya jadi berpikir, mungkin yang dibutuhkan petani Raci Tengah bukan solusi yang rumit, melainkan solusi yang tepat sasaran. Perangkap tikus listrik yang diperkenalkan dalam program pengabdian ini menurut saya menarik justru karena kesederhanaannya. Alat ini bekerja dengan prinsip yang mudah dipahami: tikus masuk lewat satu lubang karena tertarik umpan, lalu tersengat arus listrik dari kawat penghantar yang dialiri aki 12 volt. Tidak ada bahan kimia yang mencemari tanah, tidak ada racun yang perlu dibeli berulang kali. Bagi saya, ini bukan sekadar soal alat baru, tetapi soal bagaimana teknologi tepat guna bisa menjadi jalan keluar dari kebiasaan lama yang sebenarnya sudah terbukti kurang efektif. Kalau petani bisa membuat dan merawat sendiri alat semacam ini, mereka tidak lagi bergantung pada distributor racun tikus, dan itu artinya kemandirian ekonomi kecil-kecilan yang justru penting untuk pertanian yang ingin bertahan lama, bukan hanya bertahan musim ini.
Yang membuat pengalaman ini terasa berbeda bagi saya sebagai mahasiswa Manajemen adalah menyadari bahwa keberhasilan sebuah teknologi tidak pernah berhenti di meja rancangan. Selama program berlangsung, tahapannya tidak berhenti pada memasang alat lalu pergi. Ada sosialisasi lebih dulu untuk membangun pemahaman bersama kelompok tani tentang mengapa perangkap ini dibutuhkan, sekaligus mengenalkan konsep pengendalian hama terpadu supaya petani tidak hanya bergantung pada satu alat, tetapi juga memahami pola serangan tikus itu sendiri. Dilanjutkan pelatihan langsung di lapangan supaya petani tahu persis cara memasang, mengoperasikan, dan merawat alatnya sendiri, termasuk hal-hal yang tampak sepele tapi krusial seperti bagaimana menghindari risiko tersengat arus listrik saat memeriksa perangkap.
Setelah perangkap benar-benar dipasang di titik-titik yang menjadi jalur aktivitas tikus, pendampingan tetap berjalan, membantu petani mengatasi kendala teknis yang muncul, sampai akhirnya dievaluasi bersama untuk melihat seberapa efektif alat ini menekan serangan hama dan seberapa banyak tikus yang berhasil ditangkap. Di titik inilah saya merasa peran mahasiswa sebenarnya bukan sekadar membawa barang jadi ke desa, melainkan menemani proses adaptasi masyarakat terhadap sesuatu yang baru bagi mereka. Teknologi secanggih apa pun tidak akan berguna kalau penggunanya tidak percaya diri atau tidak paham cara merawatnya, dan di situlah kehadiran mahasiswa selama masa pendampingan menjadi jembatan yang sebenarnya paling menentukan.
Pengalaman ini mengajarkan saya bahwa mengurangi serangan hama tikus dan meningkatkan produktivitas pertanian bukan semata soal menghadirkan alat baru, tapi soal membangun kepercayaan dan kemampuan masyarakat untuk mengelola solusinya sendiri. Perangkap tikus listrik bisa saja rusak, aus, atau perlu dimodifikasi seiring waktu, tetapi selama kelompok tani Raci Tengah paham prinsip kerjanya dan berani merawatnya secara mandiri, manfaat program ini tidak akan berhenti begitu mahasiswa KKN pulang.
Justru di situlah ukuran keberhasilan sesungguhnya sebuah pengabdian masyarakat: bukan pada seberapa canggih alat yang dibawa, melainkan seberapa jauh masyarakat mampu berdiri sendiri setelah pendampingan usai. Kalau hama tikus saja bisa dilawan dengan teknologi sederhana yang dipahami penuh oleh penggunanya, barangkali itu pertanda bahwa desa-desa kecil seperti Raci Tengah sebenarnya tidak kekurangan solusi, mereka hanya butuh kesempatan untuk mencobanya sendiri.
Kalau bicara soal masalah petani, kebanyakan orang langsung membayangkan harga gabah yang anjlok atau pupuk yang mahal. Jarang sekali ada yang menyoroti tikus sebagai musuh yang sebenarnya jauh lebih dekat dan lebih rutin menyerang. Padahal di banyak desa, termasuk Desa Raci Tengah, Kecamatan Sidayu, Kabupaten Gresik, tikus bukan gangguan musiman yang datang sesekali. Ia hadir hampir di setiap musim tanam, mengikis hasil panen sedikit demi sedikit sampai petani terbiasa menganggapnya sebagai bagian dari risiko bertani. Cara pandang semacam ini yang menurut saya justru berbahaya, karena masalah yang dianggap biasa itu, kalau dibiarkan terus-menerus, pelan-pelan menggerogoti sumber penghidupan utama masyarakat desa.
Raci Tengah adalah salah satu contoh nyata bagaimana ketergantungan pada sektor pertanian membuat gangguan sekecil apa pun berdampak besar. Sebagian besar warganya menggantungkan hidup dari lahan pertanian aktif yang luasnya diperkirakan mencapai 40 hektare, dengan padi dan palawija sebagai komoditas utama. Saya melihat sendiri bagaimana kelompok tani di sana sebenarnya sudah berusaha melawan serangan tikus, tetapi caranya masih itu-itu saja: racun dan pestisida. Masalahnya, cara ini tidak pernah benar-benar menyelesaikan persoalan.
Racun memang membunuh sebagian tikus, tetapi populasi mereka berkembang biak lebih cepat daripada efek racun itu bekerja, sementara residunya mengendap di tanah dan berisiko mengganggu organisme lain yang justru dibutuhkan untuk menjaga keseimbangan ekosistem sawah. Artinya, petani sebenarnya sedang berputar di lingkaran yang sama tanpa pernah keluar dari masalah intinya.
Dari situ saya jadi berpikir, mungkin yang dibutuhkan petani Raci Tengah bukan solusi yang rumit, melainkan solusi yang tepat sasaran. Perangkap tikus listrik yang diperkenalkan dalam program pengabdian ini menurut saya menarik justru karena kesederhanaannya. Alat ini bekerja dengan prinsip yang mudah dipahami: tikus masuk lewat satu lubang karena tertarik umpan, lalu tersengat arus listrik dari kawat penghantar yang dialiri aki 12 volt. Tidak ada bahan kimia yang mencemari tanah, tidak ada racun yang perlu dibeli berulang kali.
Bagi saya, ini bukan sekadar soal alat baru, tetapi soal bagaimana teknologi tepat guna bisa menjadi jalan keluar dari kebiasaan lama yang sebenarnya sudah terbukti kurang efektif. Kalau petani bisa membuat dan merawat sendiri alat semacam ini, mereka tidak lagi bergantung pada distributor racun tikus, dan itu artinya kemandirian ekonomi kecil-kecilan yang justru penting untuk pertanian yang ingin bertahan lama, bukan hanya bertahan musim ini.
Yang membuat pengalaman ini terasa berbeda bagi saya sebagai mahasiswa Manajemen adalah menyadari bahwa keberhasilan sebuah teknologi tidak pernah berhenti di meja rancangan. Selama program berlangsung, tahapannya tidak berhenti pada memasang alat lalu pergi. Ada sosialisasi lebih dulu untuk membangun pemahaman bersama kelompok tani tentang mengapa perangkap ini dibutuhkan, sekaligus mengenalkan konsep pengendalian hama terpadu supaya petani tidak hanya bergantung pada satu alat, tetapi juga memahami pola serangan tikus itu sendiri.
Dilanjutkan pelatihan langsung di lapangan supaya petani tahu persis cara memasang, mengoperasikan, dan merawat alatnya sendiri, termasuk hal-hal yang tampak sepele tapi krusial seperti bagaimana menghindari risiko tersengat arus listrik saat memeriksa perangkap. Setelah perangkap benar-benar dipasang di titik-titik yang menjadi jalur aktivitas tikus, pendampingan tetap berjalan, membantu petani mengatasi kendala teknis yang muncul, sampai akhirnya dievaluasi bersama untuk melihat seberapa efektif alat ini menekan serangan hama dan seberapa banyak tikus yang berhasil ditangkap.
Di titik inilah saya merasa peran mahasiswa sebenarnya bukan sekadar membawa barang jadi ke desa, melainkan menemani proses adaptasi masyarakat terhadap sesuatu yang baru bagi mereka. Teknologi secanggih apa pun tidak akan berguna kalau penggunanya tidak percaya diri atau tidak paham cara merawatnya, dan di situlah kehadiran mahasiswa selama masa pendampingan menjadi jembatan yang sebenarnya paling menentukan.
Pengalaman ini mengajarkan saya bahwa mengurangi serangan hama tikus dan meningkatkan produktivitas pertanian bukan semata soal menghadirkan alat baru, tapi soal membangun kepercayaan dan kemampuan masyarakat untuk mengelola solusinya sendiri. Perangkap tikus listrik bisa saja rusak, aus, atau perlu dimodifikasi seiring waktu, tetapi selama kelompok tani Raci Tengah paham prinsip kerjanya dan berani merawatnya secara mandiri, manfaat program ini tidak akan berhenti begitu mahasiswa KKN pulang.
Justru di situlah ukuran keberhasilan sesungguhnya sebuah pengabdian masyarakat: bukan pada seberapa canggih alat yang dibawa, melainkan seberapa jauh masyarakat mampu berdiri sendiri setelah pendampingan usai. Kalau hama tikus saja bisa dilawan dengan teknologi sederhana yang dipahami penuh oleh penggunanya, barangkali itu pertanda bahwa desa-desa kecil seperti Raci Tengah sebenarnya tidak kekurangan solusi, mereka hanya butuh kesempatan untuk mencobanya sendiri.
Raci Tengah adalah salah satu contoh nyata bagaimana ketergantungan pada sektor pertanian membuat gangguan sekecil apa pun berdampak besar. Sebagian besar warganya menggantungkan hidup dari lahan pertanian aktif yang luasnya diperkirakan mencapai 40 hektare, dengan padi dan palawija sebagai komoditas utama. Saya melihat sendiri bagaimana kelompok tani di sana sebenarnya sudah berusaha melawan serangan tikus, tetapi caranya masih itu-itu saja: racun dan pestisida. Masalahnya, cara ini tidak pernah benar-benar menyelesaikan persoalan. Racun memang membunuh sebagian tikus, tetapi populasi mereka berkembang biak lebih cepat daripada efek racun itu bekerja, sementara residunya mengendap di tanah dan berisiko mengganggu organisme lain yang justru dibutuhkan untuk menjaga keseimbangan ekosistem sawah. Artinya, petani sebenarnya sedang berputar di lingkaran yang sama tanpa pernah keluar dari masalah intinya.
Dari situ saya jadi berpikir, mungkin yang dibutuhkan petani Raci Tengah bukan solusi yang rumit, melainkan solusi yang tepat sasaran. Perangkap tikus listrik yang diperkenalkan dalam program pengabdian ini menurut saya menarik justru karena kesederhanaannya. Alat ini bekerja dengan prinsip yang mudah dipahami: tikus masuk lewat satu lubang karena tertarik umpan, lalu tersengat arus listrik dari kawat penghantar yang dialiri aki 12 volt. Tidak ada bahan kimia yang mencemari tanah, tidak ada racun yang perlu dibeli berulang kali. Bagi saya, ini bukan sekadar soal alat baru, tetapi soal bagaimana teknologi tepat guna bisa menjadi jalan keluar dari kebiasaan lama yang sebenarnya sudah terbukti kurang efektif. Kalau petani bisa membuat dan merawat sendiri alat semacam ini, mereka tidak lagi bergantung pada distributor racun tikus, dan itu artinya kemandirian ekonomi kecil-kecilan yang justru penting untuk pertanian yang ingin bertahan lama, bukan hanya bertahan musim ini.
Yang membuat pengalaman ini terasa berbeda bagi saya sebagai mahasiswa Manajemen adalah menyadari bahwa keberhasilan sebuah teknologi tidak pernah berhenti di meja rancangan. Selama program berlangsung, tahapannya tidak berhenti pada memasang alat lalu pergi. Ada sosialisasi lebih dulu untuk membangun pemahaman bersama kelompok tani tentang mengapa perangkap ini dibutuhkan, sekaligus mengenalkan konsep pengendalian hama terpadu supaya petani tidak hanya bergantung pada satu alat, tetapi juga memahami pola serangan tikus itu sendiri.
Dilanjutkan pelatihan langsung di lapangan supaya petani tahu persis cara memasang, mengoperasikan, dan merawat alatnya sendiri, termasuk hal-hal yang tampak sepele tapi krusial seperti bagaimana menghindari risiko tersengat arus listrik saat memeriksa perangkap. Setelah perangkap benar-benar dipasang di titik-titik yang menjadi jalur aktivitas tikus, pendampingan tetap berjalan, membantu petani mengatasi kendala teknis yang muncul, sampai akhirnya dievaluasi bersama untuk melihat seberapa efektif alat ini menekan serangan hama dan seberapa banyak tikus yang berhasil ditangkap.
Di titik inilah saya merasa peran mahasiswa sebenarnya bukan sekadar membawa barang jadi ke desa, melainkan menemani proses adaptasi masyarakat terhadap sesuatu yang baru bagi mereka. Teknologi secanggih apa pun tidak akan berguna kalau penggunanya tidak percaya diri atau tidak paham cara merawatnya, dan di situlah kehadiran mahasiswa selama masa pendampingan menjadi jembatan yang sebenarnya paling menentukan.
Pengalaman ini mengajarkan saya bahwa mengurangi serangan hama tikus dan meningkatkan produktivitas pertanian bukan semata soal menghadirkan alat baru, tapi soal membangun kepercayaan dan kemampuan masyarakat untuk mengelola solusinya sendiri. Perangkap tikus listrik bisa saja rusak, aus, atau perlu dimodifikasi seiring waktu, tetapi selama kelompok tani Raci Tengah paham prinsip kerjanya dan berani merawatnya secara mandiri, manfaat program ini tidak akan berhenti begitu mahasiswa KKN pulang.
Justru di situlah ukuran keberhasilan sesungguhnya sebuah pengabdian masyarakat: bukan pada seberapa canggih alat yang dibawa, melainkan seberapa jauh masyarakat mampu berdiri sendiri setelah pendampingan usai. Kalau hama tikus saja bisa dilawan dengan teknologi sederhana yang dipahami penuh oleh penggunanya, barangkali itu pertanda bahwa desa-desa kecil seperti Raci Tengah sebenarnya tidak kekurangan solusi, mereka hanya butuh kesempatan untuk mencobanya sendiri.
Disclaimer
Retizen adalah Blog Republika Netizen untuk menyampaikan gagasan, informasi, dan pemikiran terkait berbagai hal. Semua pengisi Blog Retizen atau Retizener bertanggung jawab penuh atas isi, foto, gambar, video, dan grafik yang dibuat dan dipublished di Blog Retizen. Retizener dalam menulis konten harus memenuhi kaidah dan hukum yang berlaku (UU Pers, UU ITE, dan KUHP). Konten yang ditulis juga harus memenuhi prinsip Jurnalistik meliputi faktual, valid, verifikasi, cek dan ricek serta kredibel.

16 hours ago
12






































