Melihat Hilir dari Hulu: Refleksi Seorang Dosen di Tengah Keriuhan MPLS

16 hours ago 12

Image Rizki Wahyu Pratama

Edukasi | 2026-07-14 09:46:28

Rutinitas pagi biasanya membawa pikiran saya langsung melesat menuju kampus di Padang—bersiap dengan draf kurikulum, jurnal penelitian, dan dinamika mahasiswa perguruan tinggi yang menuntut argumen kritis. Namun, pagi itu di Bukittinggi, ritmenya sengaja saya perlambat. Saya berdiri di luar pagar sekolah, mengamati anak saya dan puluhan anak lainnya menjalani keriuhan Masa Pengenalan Lingkungan Sekolah (MPLS). Dari kacamata seorang dosen, pemandangan celoteh dan tangisan di halaman TK ini menyajikan lanskap refleksi yang tak akan pernah ditemukan di laboratorium kampus mana pun.

Di institusi pendidikan tinggi, kami para dosen sejatinya berada di wilayah "hilir". Kami menerima mahasiswa yang karakter, daya juang, dan pola pikirnya telah melalui proses pencetakan selama belasan tahun di bangku sekolah.

Sering kali di tingkat universitas—terlebih di bidang teknik yang sarat tekanan dan tenggat waktu—kami mengeluhkan mahasiswa yang mudah menyerah, kurang luwes dalam kerja tim, atau rapuh saat menghadapi kritik akademik. Berdiri mengamati MPLS pagi ini menyadarkan saya pada satu realitas absolut: fondasi utama untuk mencegah kerapuhan di usia mahasiswa itu, sedang dicor dengan telaten tepat di halaman sekolah dasar dan TK ini.

Di pendidikan tinggi, kita sering kali terlalu sibuk menjejalkan hard skill atau kompetensi teknis. Kita terobsesi dengan output dan angka. Namun di fase MPLS ini, esensi pendidikan dikembalikan pada fitrahnya yang paling murni: pembentukan soft skill.

Anak-anak ini tidak sedang belajar membaca huruf atau berhitung secara formal. Mereka sedang mempelajari tata bahasa kehidupan. Mereka belajar seni mengantre, keberanian mengangkat tangan untuk meminta izin ke toilet, menahan ego untuk berbagi mainan, dan mengelola rasa frustrasi ketika keinginannya tidak langsung terpenuhi. Bagi seorang pengajar di level universitas, melihat proses organik ini sungguh merendahkan hati ( humbling). Kami di kampus tidak akan pernah bisa mencetak sarjana yang beretika sosial tinggi, jika guru-guru di "hulu" ini gagal menanamkan benih empati.

Jika boleh meminjam analogi keteknikan, MPLS adalah tahap commissioning test paling awal dari sistem jaringan manusia. Jika di kampus kami bertugas melakukan sinkronisasi akhir sebelum mahasiswa disalurkan ke dunia industri yang keras, maka guru-guru di sekolah awal inilah yang melakukan sinkronisasi paling krusial dan berisiko tinggi. Mereka bertugas menyambungkan sirkuit rumah (zona nyaman keluarga) ke sirkuit sosial yang lebih luas untuk pertama kalinya.

Mengelola transisi dan lonjakan "tegangan" psikologis anak-anak usia dini membutuhkan kelembutan, kesabaran, dan teknik pedagogi yang jauh lebih rumit daripada menyelesaikan persamaan matematika.

Menyaksikan keriuhan MPLS hingga bel pulang berbunyi membuat saya menaruh rasa hormat yang berkali-kali lipat kepada para pendidik di usia dini. Merekalah arsitek peradaban yang sesungguhnya. Saat saya kembali berada di balik kemudi, bersiap menyusuri jalanan menuju realitas akademik orang dewasa, saya membawa satu keyakinan baru: mahasiswa-mahasiswa tangguh yang kelak berdebat di ruang kelas saya, pada dasarnya lahir dari keberhasilan guru-guru TK dan SD mereka di minggu-minggu pertama sekolah.

Oleh: Rizki Wahyu Pratama

Disclaimer

Retizen adalah Blog Republika Netizen untuk menyampaikan gagasan, informasi, dan pemikiran terkait berbagai hal. Semua pengisi Blog Retizen atau Retizener bertanggung jawab penuh atas isi, foto, gambar, video, dan grafik yang dibuat dan dipublished di Blog Retizen. Retizener dalam menulis konten harus memenuhi kaidah dan hukum yang berlaku (UU Pers, UU ITE, dan KUHP). Konten yang ditulis juga harus memenuhi prinsip Jurnalistik meliputi faktual, valid, verifikasi, cek dan ricek serta kredibel.

Read Entire Article
Berita Republika | International | Finance | Health | Koran republica |