Tidak Shalat Jumat demi Selamat

19 hours ago 11

Image Berri Brilliant Albar

Agama | 2026-07-17 00:35:24

Bagi umat Islam yang tinggal di tanah air, ditiadakannya shalat Jumat adalah sesuatu yang sangat langka dan hampir tidak terbayangkan, kecuali saat pandemi beberapa tahun lalu. Namun, bagi para perantau muslim yang sedang menempuh studi atau bekerja di Taiwan, situasi ini bisa terjadi karena faktor alam yang ekstrem seperti amukan badai topan.

Salah satu momen yang membekas adalah pada hari Jumat, 10 Juli 2026 lalu, ketika pengelola Taipei Grand Mosque terpaksa mengambil keputusan berat untuk meniadakan ibadah salat Jumat akibat ancaman Topan Bavi. Ketika pemerintah kota menetapkan status siaga bencana dan meliburkan aktivitas publik demi keselamatan jiwa, aktivitas di masjid tertua dan terbesar di Taiwan ini pun harus dihentikan sementara waktu.

Peristiwa ini bukan sekadar tentang batalnya sebuah ritual ibadah, melainkan sebuah studi kasus menarik tentang bagaimana sebuah institusi keagamaan beradaptasi dengan hukum keselamatan sipil di negara maju, serta bagaimana mereka mengelola komunikasi darurat kepada komunitas jemaah yang sangat beragam.

Ilustrasi dari taipeimosque.org.tw

Kepadatan di Hari Biasa dan Manajemen Dua Sesi

Dalam kondisi normal, Masjid Raya Taipei adalah pusat gravitasi bagi umat Islam di wilayah utara Taiwan. Pada hari Jumat biasa, area utama masjid hingga ke halaman luar selalu dipadati oleh limpahan jemaah yang datang dari berbagai penjuru kota. Fenomena ini memotret tingginya konsentrasi komunitas muslim di tengah masyarakat minoritas.

Bahkan, ketika hari libur nasional di Taiwan kebetulan jatuh pada hari Jumat, pengelola masjid harus menghadapi tantangan kapasitas yang luar biasa. Di hari-hari libur seperti itu, jumlah jemaah yang datang melonjak berkali-kali ilpat karena para pekerja migran dan mahasiswa akhirnya memiliki waktu luang untuk berkumpul.

Untuk menyiasati keterbatasan ruang fisik ini, pengelola masjid biasanya menerapkan strategi manajemen kapasitas yang cerdas, yaitu dengan membagi pelaksanaan ibadah menjadi dua sesi salat Jumat secara berurutan. Sesi ganda ini memastikan seluruh jemaah yang datang tetap terlayani dengan tertib dan nyaman.

Namun, semua hiruk-pikuk dan antrean panjang itu mendadak sunyi senyap pada Jumat, 10 Juli lalu. Keadaan kontras ini memperlihatkan bagaimana sebuah pusat kegiatan yang biasanya sangat padat harus benar-benar berhenti demi mematuhi protokol keselamatan bencana.

Manajemen Krisis Komunikasi dalam Komunitas Multi-Bahasa

Salah satu tantangan terbesar pengelola Masjid Raya Taipei saat menghadapi situasi darurat seperti ini adalah bagaimana menyampaikan informasi secara cepat kepada publik yang sangat beragam. Jemaah masjid ini tidak homogen; mereka terdiri dari warga lokal Taiwan yang berbahasa Mandarin, ekspatriat Timur Tengah berbahasa Arab, mahasiswa internasional berbahasa Inggris, hingga komunitas besar dari Asia Tenggara yang berbahasa Indonesia.

Dalam waktu yang sangat singkat setelah pemerintah mengetuk palu siaga topan, pengelola masjid harus menyebarkan informasi pembatalan salat Jumat secara masif dan akurat. Pengumuman dibuat dalam format multi-bahasa melalui media sosial dan grup-grup komunikasi komunitas. Pesan yang disampaikan tidak hanya berisi pemberitahuan bahwa salat Jumat ditiadakan, tetapi juga edukasi keagamaan bahwa dalam kondisi darurat badai, kewajiban salat Jumat digantikan dengan salat zuhur di tempat tinggal masing-masing demi menjaga keselamatan jiwa. Langkah komunikasi yang cepat ini berhasil mencegah penumpukan jemaah yang telanjur datang ke lokasi di tengah cuaca ekstrem.

Kepatuhan Sipil dan Harmoni di Negeri Minoritas

Peristiwa penutupan aktivitas masjid pada Jumat, 10 Juli lalu ini juga memperlihatkan potret indah tentang bagaimana minoritas muslim di Taiwan mampu berintegrasi dengan sistem hukum setempat. Di Taiwan, keselamatan publik adalah prioritas mutlak yang diatur dengan sangat ketat oleh pemerintah.

Ketika masjid menyelaraskan kebijakannya dengan keputusan pemerintah daerah terkait status libur topan, hal ini mengirimkan pesan positif kepada masyarakat Taiwan secara luas. Ini adalah bentuk menjaga reputasi bersama yang menunjukkan bahwa Islam adalah agama yang fleksibel, sangat menghargai kehidupan manusia, dan siap bekerja sama dengan otoritas sipil dalam situasi darurat. Jemaah muslim di Taiwan menunjukkan kedewasaan mereka sebagai warga negara yang baik dengan memilih tetap tinggal di kamar atau asrama mereka, sembari melantunkan doa keselamatan di tengah raungan angin topan di luar jendela.

Kesimpulan: Ibadah yang Bergeser ke Dalam Rumah

Pada akhirnya, ditiadakannya salat Jumat di Masjid Raya Taipei karena Topan Bavi mengajarkan kita bahwa tempat beribadah terbaik dalam kondisi darurat adalah di mana keselamatan jiwa kita terjaga.

Bagi para perantau muslim di Taiwan, hari Jumat, 10 Juli lalu itu mungkin dilewati tanpa gema khotbah di bawah kubah besar masjid atau jabat tangan hangat dengan sesama perantau. Namun, dari balik jendela kamar-kamar flat dan asrama di Taipei, esensi ibadah itu tidak pernah hilang. Kepatuhan untuk tetap berada di dalam rumah demi keselamatan, sembari mengganti salat Jumat dengan zuhur, adalah bentuk ibadah lain yang tidak kalah mulianya, sebuah pembuktian bahwa iman yang kokoh akan selalu bisa beradaptasi, bahkan di tengah sapuan badai terdahsyat sekalipun.

Post by TGM

Disclaimer

Retizen adalah Blog Republika Netizen untuk menyampaikan gagasan, informasi, dan pemikiran terkait berbagai hal. Semua pengisi Blog Retizen atau Retizener bertanggung jawab penuh atas isi, foto, gambar, video, dan grafik yang dibuat dan dipublished di Blog Retizen. Retizener dalam menulis konten harus memenuhi kaidah dan hukum yang berlaku (UU Pers, UU ITE, dan KUHP). Konten yang ditulis juga harus memenuhi prinsip Jurnalistik meliputi faktual, valid, verifikasi, cek dan ricek serta kredibel.

Read Entire Article
Berita Republika | International | Finance | Health | Koran republica |