REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA — Pakta Pertahanan Makkah antara Arab Saudi, Pakistan, dan Turki, diharapkan menjadi tonggak baru dalam upaya mempersatuan kekuatan negara-negara Islam saat ini. Ketua Lajnah al-Quds dan Palestina - Kesatuan Ulama Muslim Antarbangsa, Marwan Abu Ras mengatakan, agar pemimpin-pemimpin negara Islam saat ini mengambil momentum Kesepakatan Makkah untuk merapatkan saf perlawanan terhadap penjajahan zionisme israel, dan kolonialisme.
“Kita berharap pengumuman Kesepakatan Makkah dari tiga negara ini, Saudi, Pakistan, dan Turki ini, bisa menjadi pioner yang akan memulai persatuan dunia Islam dalam menghadapi zionisme israel, dan terhapusnya kolonialisme barat,” begitu kata Marwan saat ditemui Republika di Masjid AQL, Jakarta Selatan (Jaksel), Senin (10/8/2026) malam. Marwan datang ke Jakarta berdiskusi bersama Global Peace Convoy Indonesia (GPCI) membahas langkah strategis lanjutan misi Global Sumud Flotilla.
Marwan merupakan tokoh politik, sekaligus ulama asal Palestina yang juga dikenal sebagai salah satu penggagas misi pelayaran kemanusian menembus Gaza dari blokade zionis israel. Marwan dalam diskusi itu menyampaikan misi kemanusian Global Sumud Flotilla saat ini menjadi kekuatan baru dari kalangan sipil yang tak bersenjata, namun paling ditakuti otoritas penjajahan zionis israel di Palestina.
“Bagaimana kegiatan pelayaran dari kalangan sipil yang tidak bersenjata ini menjadi paku yang berhasil menusuk jantung zionis israel,” kata Marwan. Dia berharap, agar partisipasi aktivis dan relawan-relawan dari negara-negara Islam lebih mendominasi dalam konvoi laut akbar menembus blokade Gaza episode berikutnya. Selain membahas langkah-langkah strategis untuk misi pelayaran berikutnya, Marwan yang juga mantan anggota Parleman Palestina itu juga membahas soal perubahan geopolitik saat ini.
Marwan juga membahas perihal adanya geliat baru pemimpin-pemimpin negara Islam saat ini yang mulai membuka diri untuk saling bekerjasama dalam menghadapi ancaman musuh yang sama. Dia menyinggung soal Pakta Pertahanan Makkah yang baru-baru ini diteken antara Arab Saudi, Pakistan, dan Turki. Menurutnya, kesepakatan tiga negara Islam itu bakal meluas ke negara-negara Islam lainnya. Pun dia berharap agar Kesepakatan Makkah itu menjadi wadah baru persatuan Islam di seluruh dunia.
“Kita mengharapkan persatuan ini tidak hanya terbatas pada beberapa negara. Bila perlu semuanya. Kita sangat berharap negara-negara Teluk, dan negara-negara muslim lainnya bersatu. Jika kita mengabaikan persatuan ini, kita akan selamanya terombang-ambing,” kata Marwan. Di Istana Safa, Makkah, Jumat (7/8/2026) pekan lalu, tiga pemimpin negara Islam menandatangani pakta pertahanan bersama.
Mereka di antaranya Perdana Menteri sekaligus Putra Mahkota Arab Saudi Muhammad Bin Salman Bin Abdulaziz sebagai tuan rumah, dan Presiden Turki Reccep Tayyip Erdogan, juga Perdana Menteri Pakistan Muhammad Shehbaz Sharif. Tiga pemimpin negara-negara Islam itu sepakat mengikat diri dalam perjanjian pertahanan bersama untuk merespons ancaman negara lain. Kesepakatan Makkah tersebut menyatakan, serangan bersenjata ke salah satu negara itu, merupakan serangan terhadap semuanya.
Dalam Pakta Pertahanan Makkah itu juga mengatur soal kerja sama intelijen untuk pertahanan bersama. Termasuk juga kerja sama pengerahan militer dan persenjataan atas dasar permintaan. Pakta Pertahanan Makkah ini sejak lama diprediksi bakal menjadi poros baru kekuatan dari negara-negara Islam sebagai respons atas kegentingan global yang mengancam negara-negara Islam. Selain Arab Saudi, Pakistan, dan Turki, banyak pengamat geopolitik yang memprediksi bergabungnya Mesir dalam pakta pertahanan tersebut.

8 hours ago
5
















































