REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Perjalanan panjang Luka Modric di panggung Piala Dunia berakhir dengan cara yang menyakitkan. Kroasia harus angkat koper setelah kalah dramatis 1-2 dari Portugal pada babak 32 besar Piala Dunia 2026, Jumat (3/7/2026) pagi WIB.
Bagi pelatih Zlatko Dalic, kekalahan itu bukan hanya mengakhiri langkah timnya, melainkan juga berpotensi menutup kiprah Modric di ajang sepak bola paling bergengsi di dunia.
Harapan Kroasia sempat kembali menyala ketika Josko Gvardiol mencetak gol penyama kedudukan pada injury time. Namun, gol tersebut dianulir setelah tinjauan VAR menunjukkan Mario Pasalic lebih dulu berada dalam posisi offside pada proses terjadinya gol. Portugal pun memastikan kemenangan 2-1 dan melaju ke babak 16 besar.
Dalic mengaku sulit menerima kenyataan bahwa perjalanan Modric di Piala Dunia kemungkinan berakhir dengan cara seperti itu. Menurut dia, sang kapten kembali menunjukkan kualitas, karakter, dan kepemimpinan hingga menit-menit terakhir pertandingan.
"Ini mungkin Piala Dunia terakhirnya. Tetapi hanya Tuhan yang tahu apa yang akan terjadi dalam empat tahun ke depan. Kita lihat saja. Kami akan membicarakannya lagi saat kembali ke Kroasia," ujar Dalić, dikutip dari ESPN.
Pelatih berusia 59 tahun itu menegaskan, Modric tetap menjadi pemain terpenting Kroasia meski telah menginjak usia 40 tahun. Sepanjang laga menghadapi Portugal, gelandang veteran tersebut masih mampu mengendalikan tempo permainan dan menjadi motor serangan timnya.
"Luka bermain sangat baik. Sekali lagi dia adalah salah satu pemain terpenting kami. Saya sangat menyesal ini berakhir seperti ini untuknya. Sekali lagi dia menunjukkan karakter dan kualitasnya. Dia memimpin Kroasia hingga akhir," kata Dalić.
Modric memang kembali membuktikan kualitasnya pada laga tersebut. Ia mencatatkan 66 sentuhan bola, memenangi tiga duel tekel, serta melepaskan dua umpan silang berbahaya pada babak kedua. Performa itu melengkapi perjalanan panjangnya bersama Kroasia dalam lima edisi Piala Dunia.
Selama membela negaranya, Modric membawa Kroasia mencatat sejarah sebagai finalis Piala Dunia 2018 dan finis di peringkat ketiga pada edisi 2022. Pada Piala Dunia 2026, ia kembali menjadi starter dalam seluruh pertandingan Kroasia meski usianya telah memasuki kepala empat.
Penghormatan juga datang dari kapten Portugal, Cristiano Ronaldo. Rekan setim Modric selama sembilan musim di Real Madrid itu menilai mantan koleganya tetap layak disebut sebagai salah satu legenda terbesar sepak bola dunia.
"Saya bermain bersama Luka selama bertahun-tahun. Usia kami hampir sama. Saya pikir dia legenda sepak bola. Dia tetap seorang legenda sepak bola," ujar Ronaldo.
Pelatih Portugal Roberto Martinez turut mengagumi kemampuan Modric yang dinilainya tetap luar biasa meski tidak lagi muda. Menurut Martinez, kekuatan terbesar Modric bukan hanya teknik atau fisiknya, melainkan kecerdasannya membaca permainan.
"Anda sedang membicarakan seorang pemain yang, dengan usianya yang sudah lanjut, bermain seperti seorang pemuda dengan kemampuan berpikir yang luar biasa," ujar Martinez.
"Tidak sering kita membicarakan aspek berpikir dalam sepak bola. Biasanya yang dibahas adalah taktik, teknik, atau fisik. Namun Modric adalah contoh sempurna pemain yang mampu mengendalikan permainan melalui pengambilan keputusan. Apa pun situasi pertandingannya, dia selalu mampu menemukan ritme permainan dan membuat keputusan yang tepat."
Meski masa depan Modric bersama tim nasional masih belum dipastikan, warisannya telah terukir dalam sejarah sepak bola Kroasia. Dari final Piala Dunia, peringkat ketiga dunia, hingga lima kali tampil di turnamen terbesar sepak bola, Modric meninggalkan jejak yang akan sulit disamai generasi berikutnya.

8 hours ago
12







































