REPUBLIKA.CO.ID, BANTUL -- Melemahnya nilai tukar Rupiah hingga tembus di angka Rp17.698 per Dolar AS dinilai mulai memberi tekanan serius terhadap ketahanan industri perbankan syariah di Indonesia. Akademisi Universitas Muhammadiyah Yogyakarta (UMY) menilai dampak depresiasi rupiah kini tidak lagi hanya menghantam sektor perbankan konvensional, tetapi juga mulai menguji stabilitas pembiayaan dan likuiditas bank syariah.
Dosen Magister Ekonomi UMY, Dimas Bagus Wiranatakusuma, mengatakan pelemahan rupiah membawa efek berantai melalui kenaikan harga barang impor yang kemudian mempengaruhi sektor riil dan kemampuan usaha dalam memenuhi kewajiban pembiayaan. Dia menyoroti karakteristik perbankan syariah yang mengedepankan prinsip kehati-hatian memang menjadi perisai awal. Namun, transmisi efek pelemahan kurs melalui jalur inflasi produk impor di sektor riil tetap akan mengganggu kualitas pembiayaan syariah.
Pelemahan rupiah, lanjutnya juga akan langsung mempengaruhi pelaku usaha yang menjadi nasabah utama perbankan syariah, khususnya sektor usaha yang masih bergantung pada bahan baku impor, mesin produksi, energi, hingga barang modal berbasis dolar AS. Kenaikan biaya impor menyebabkan biaya produksi meningkat dan margin keuntungan perusahaan menurun.
"Dalam situasi tersebut, kemampuan nasabah membayar kewajiban pembiayaan kepada bank syariah ikut melemah. Di sinilah risiko pembiayaan bermasalah atau non-performing financing (NPF) mulai meningkat," kata Dimas dalam keterangannya, Senin (18/5/2026).
Menurutnya, sektor perdagangan, manufaktur, tekstil, farmasi, hingga UMKM berbasis impor menjadi kelompok yang paling rentan terdampak pelemahan Rupiah. Jika kondisi tersebut berlangsung lama, tekanan terhadap kualitas pembiayaan bank syariah diperkirakan semakin besar.
Meski demikian, Dimas menilai bank syariah masih memiliki keunggulan dibanding perbankan konvensional karena eksposurnya terhadap instrumen valuta asing dan transaksi derivatif internasional relatif kecil. Namun tekanan tetap dapat muncul dari sisi likuiditas. Ketika Bank Indonesia mempertahankan suku bunga tinggi demi menjaga stabilitas Rupiah, biaya penghimpunan dana di sektor keuangan ikut meningkat.
Dimas menilai, kondisi ini tetap mempengaruhi industri perbankan syariah meskipun tidak menggunakan sistem bunga. "Dalam situasi ketidakpastian tinggi, masyarakat menjadi lebih berhati-hati dalam menempatkan dana. Jika tidak dikelola dengan baik, tekanan likuiditas juga dapat dirasakan industri perbankan syariah," ujarnya.
Di sisi lain, ia melihat kondisi ini justru dapat menjadi momentum bagi perbankan syariah untuk memperkuat kualitas pembiayaan dan manajemen risiko. Prinsip pembiayaan berbasis underlying asset, risk sharing, serta larangan spekulasi dinilai dapat menjadi fondasi penting dalam menjaga stabilitas industri keuangan syariah.
Dia mendorong agar perbankan syariah lebih fokus mendukung sektor-sektor produktif domestik seperti UMKM, industri halal lokal, pertanian, energi terbarukan, hingga sektor penghasil devisa. Menurutnya, semakin kuat basis ekonomi domestik yang dibiayai, maka semakin kecil risiko pelemahan Rupiah terhadap stabilitas industri perbankan syariah.
Selain itu, ia menilai regulator perlu memperkuat ekosistem keuangan syariah nasional melalui pengembangan pasar uang syariah, instrumen lindung nilai syariah, penguatan likuiditas, serta integrasi industri halal dengan pembiayaan syariah.
"Ketahanan perbankan syariah ke depan tidak hanya ditentukan oleh kepatuhan terhadap prinsip syariah, tetapi juga kemampuan membangun pembiayaan yang produktif, resilien, dan mampu memperkuat kemandirian ekonomi nasional di tengah gejolak global," ungkapnya.

11 hours ago
12














































