REPUBLIKA.CO.ID, Hari-hari terakhir ini menjadi masa yang tidak mudah bagi keluarga Hani Hanifa Humanisa (56 tahun), ibu dari Thoudy Badai fotografer Republika yang diculik tentara zionis Israel dalam perjalanan misi perdamaian di perairan internasional Mediterania Timur. Meskipun kini sudah ada kabar baik bahwa rombongan WNI akan tiba di tanah air Ahad (24/5/2026) hari ini, namun jauh sebelumnya sang ibu mengaku hanya bisa mengandalkan satu hal, jalur langit.
Ia masih mengingat percakapan terakhir dengan anaknya pada Senin pekan lalu sebelum penangkapan terjadi. Saat itu, Ody (sapaan akrabnya) mengabarkan bahwa kapal mereka dalam kondisi aman dan sudah berada di perairan internasional. Tidak ada firasat buruk sedikit pun dari percakapan tersebut.
“Dia bilang kondisinya aman, kapalnya terus melaju,” kenangnya.
Namun suasana berubah ketika kabar penangkapan mulai beredar. Sang ibu mengaku syok dan bingung harus melakukan apa. Sebagai orang tua, ia merasa tidak memiliki akses langsung untuk mencari informasi maupun membantu proses pembebasan anaknya.
“Campur aduk bingung lah. Mau ngadu ke mana, mau tanya ke siapa,” katanya.
Hari-hari setelah itu terasa seperti roller coaster emosi. Ketika muncul kabar bahwa seluruh relawan akan dibebaskan, harapan mulai tumbuh. Ia perlahan merasa lebih tenang dan mulai yakin bahwa anaknya akan segera pulang.
Tetapi ketenangan itu kembali terusik setelah mendengar cerita mengenai perlakuan yang diterima para relawan saat ditangkap. Sang ibu mengaku kembali diliputi rasa sedih dan marah membayangkan anaknya harus mengalami situasi seperti itu.
“Benar-benar roller coaster. Sedih, tenang, naik lagi perasaannya,” katanya.
Di tengah ketidakpastian itu, keluarga memilih menempuh apa yang disebutnya sebagai “jalur langit”. Menurutnya, doa menjadi satu-satunya hal yang benar-benar bisa dilakukan ketika segala sesuatu terasa di luar kendali.
“Yang bisa kita lakukan adalah jalur langit,” katanya.
Doa-doa itu dipanjatkan di setiap salat wajib maupun sunnah. Ia juga meminta keluarga besar, saudara, hingga kerabat serta tamu yang berdatangan ke rumah untuk ikut mendoakan keselamatan Ody dan relawan lainnya.
Sang ibu mengaku terharu karena dukungan doa datang dari begitu banyak orang, termasuk mereka yang bahkan tidak terlalu dikenalnya. Dukungan itu membuatnya merasa tidak sendirian menghadapi masa sulit tersebut.
“Saya yakin ini salah satu doa yang dikabulkan oleh Allah,” katanya.
Momen yang paling menenangkan baginya adalah ketika akhirnya bisa melakukan video call dengan Ody setelah kabar pembebasan muncul. Meski singkat, setidaknya ia bisa melihat langsung wajah anaknya dan mendengar suaranya.
Kini keluarga tengah bersiap menyambut kepulangan Ody ke Tanah Air di bandara Soekarno Hatta. Sang ibu berharap anaknya tiba dalam keadaan sehat, baik secara fisik maupun mental setelah melewati pengalaman yang begitu berat.
Di balik rasa cemas yang sempat menyelimuti, ada pula rasa bangga yang tumbuh dalam dirinya. Ia menilai anaknya mampu melewati situasi sulit tanpa kehilangan kendali diri dan tetap mengingat Tuhan.
Baginya, pengalaman ini bukan hanya tentang ketakutan dan penantian, tetapi juga tentang keteguhan hati, solidaritas, dan keyakinan bahwa doa memiliki kekuatan besar ketika manusia sudah tidak lagi memiliki daya. “Dia tidak hanya memikirkan dirinya sendiri,” katanya.
Pihaknya juga berharap dari salah satu poin terpenting yakni perjuangan untuk kebebasan Palestina harus dilanjutkan.
"Ya, bahwa gerakan atau kampanye pembebasan Palestina itu harus dilakukan. Harus dilakukan sampai benar-benar Palestina itu bebas. Nah, perjuangan-perjuangan Ody dan teman-teman itu, harus ada yang melanjutkan. Harus ada yang melanjutkan, itu intinya. Siapapun itu, siapapun. Tidak hanya Ody. Di di bidang tertentu ya disesuai dengan kapasitasnya masing-masing ya," katanya.

9 hours ago
14















































