Lawan Inggris Berikutnya Adalah Sejarah

9 hours ago 10

Image Robby Effendi

Olahraga | 2026-07-12 10:18:21

Gambar Dibuat Oleh Generatif AI

Inggris akhirnya melangkah ke semifinal Piala Dunia 2026. Di Miami, mereka membalikkan keadaan dan menundukkan Norwegia 2-1 melalui perpanjangan waktu. Dua gol Jude Bellingham menjadi pembeda, sekaligus menjaga mimpi "The Three Lions" tetap hidup.

Selepas peluit panjang berbunyi, euforia pun pecah. Publik Inggris mulai membicarakan satu hal yang selama puluhan tahun hanya menjadi angan-angan: final Piala Dunia.

Namun, justru di sinilah perjalanan sesungguhnya dimulai. Semifinal bukan sekadar satu pertandingan lagi. Bagi Inggris, semifinal adalah ruang yang menyimpan kenangan paling rumit.

Sejarah mencatat, dari beberapa kali tampil di empat besar Piala Dunia, Inggris hanya sekali berhasil melewati fase semifinal, yakni pada 1966 ketika mereka akhirnya mengangkat trofi dunia. Selebihnya, langkah mereka selalu terhenti tepat ketika garis akhir mulai terlihat.

Itulah mengapa kemenangan atas Norwegia tidak otomatis menghapus keraguan. Ia hanya membuka pintu menuju ujian yang selama ini sulit mereka taklukkan.

Menariknya, para pemain Inggris tampaknya memahami hal itu. Tidak ada perayaan yang berlebihan.

Jude Bellingham tidak berbicara tentang dirinya sebagai pencetak dua gol, melainkan memuji karakter dan ketekunan seluruh tim.

Harry Kane juga menekankan pentingnya terus berjuang ketika pertandingan berjalan sulit.

Bahkan Thomas Tuchel dengan jujur mengakui bahwa timnya sedikit beruntung bisa melewati laga yang sangat menguras tenaga.Pernyataan-pernyataan itu memperlihatkan sesuatu yang berbeda. Inggris memilih tetap membumi ketika dunia mulai mengangkat mereka setinggi langit.

Dalam psikologi olahraga, semakin dekat seorang atlet atau tim pada tujuan besarnya, semakin besar pula tekanan mental yang muncul. Pada fase seperti ini, lawan tidak hanya berada di seberang lapangan. Ia hadir dalam bentuk ekspektasi publik, beban sejarah, dan ketakutan mengulangi kegagalan masa lalu.

Karena itu, lawan Inggris berikutnya—siapa pun pemenang antara Argentina dan Swiss—bukanlah satu-satunya tantangan. Lawan yang lebih berat adalah bayang-bayang sejarah yang terus mengikuti setiap langkah mereka.

Ironisnya, justru sejarah itulah yang membuat kemenangan terasa begitu mahal. Negara yang selama ini menyebut dirinya sebagai rumah sepak bola belum pernah benar-benar merasa nyaman ketika sudah berada di depan pintu final.

Setiap generasi datang membawa harapan baru, tetapi juga mewarisi cerita lama tentang kesempatan yang terlepas.

Kini, generasi Jude Bellingham memiliki kesempatan untuk menulis bab yang berbeda.

Mereka tidak harus menghapus sejarah, tetapi cukup membuktikan bahwa sejarah tidak selalu menentukan masa depan.

Semifinal nanti bukan hanya pertandingan untuk memperebutkan satu tempat di final. Ia adalah pertarungan antara masa lalu dan masa kini. Antara kenangan yang membebani dan keyakinan yang sedang tumbuh. Inggris sudah mengalahkan Norwegia.

Pertanyaan besarnya sekarang bukan lagi apakah mereka cukup kuat menghadapi Argentina atau Swiss.

Pertanyaan sesungguhnya adalah: apakah Inggris akhirnya siap mengalahkan sejarahnya sendiri

Disclaimer

Retizen adalah Blog Republika Netizen untuk menyampaikan gagasan, informasi, dan pemikiran terkait berbagai hal. Semua pengisi Blog Retizen atau Retizener bertanggung jawab penuh atas isi, foto, gambar, video, dan grafik yang dibuat dan dipublished di Blog Retizen. Retizener dalam menulis konten harus memenuhi kaidah dan hukum yang berlaku (UU Pers, UU ITE, dan KUHP). Konten yang ditulis juga harus memenuhi prinsip Jurnalistik meliputi faktual, valid, verifikasi, cek dan ricek serta kredibel.

Read Entire Article
Berita Republika | International | Finance | Health | Koran republica |