Tonny Rivani
Politik | 2026-07-12 12:36:30
Gambar Ilustrasi Ali Syariati.
Opini - Ketika dunia menyoroti Iran, perhatian sering kali tertuju pada konflik geopolitik, program nuklir, atau rivalitasnya dengan negara-negara Barat. Namun, jauh sebelum Iran dikenal sebagai negara yang berupaya membangun kemandirian di tengah tekanan internasional, telah lahir sebuah revolusi pemikiran yang mengubah cara masyarakat Iran memandang dirinya sendiri. Salah satu tokoh sentral dari revolusi intelektual tersebut adalah Ali Syariati.
Bagi Syariati, kemajuan suatu bangsa tidak pernah bermula dari kekayaan sumber daya alam atau kekuatan militer, melainkan dari perubahan cara berpikir masyarakatnya. Sebuah bangsa akan mampu berdiri di atas kaki sendiri ketika memiliki kesadaran sejarah, kepercayaan terhadap identitasnya, dan keberanian menolak segala bentuk dominasi. Karena itu, sebelum Revolusi Islam 1979 meletus, Syariati sesungguhnya telah menyalakan api kesadaran yang menggerakkan generasi muda Iran untuk membangun bangsa yang merdeka secara politik, mandiri secara ekonomi, dan percaya diri secara budaya.
Ali Syariati (1933–1977) tumbuh dalam keluarga religius yang aktif dalam gerakan pembaruan Islam. Pendidikan sosiologi yang ditempuhnya di Prancis mempertemukannya dengan berbagai pemikir besar seperti Karl Marx, Jean-Paul Sartre, Frantz Fanon, hingga pemikir eksistensialis dan anti-kolonial lainnya. Namun, berbeda dengan banyak intelektual Muslim pada zamannya, Syariati tidak menelan mentah-mentah teori Barat. Ia menjadikan teori sosial modern sebagai alat analisis, sementara Islam tetap menjadi fondasi moral dan peradabannya.
Dalam pandangan Syariati, persoalan utama masyarakat Muslim bukan semata-mata kemiskinan, melainkan hilangnya kesadaran. Penjajahan modern, menurutnya, tidak selalu hadir melalui pendudukan militer, tetapi melalui dominasi cara berpikir, budaya konsumtif, ketergantungan ekonomi, dan inferioritas intelektual. Bangsa yang kehilangan kepercayaan kepada dirinya akan mudah bergantung kepada kekuatan asing.
Karena itu, Syariati memandang Islam bukan sekadar sistem ritual keagamaan, melainkan ideologi pembebasan. Islam adalah kekuatan yang membangkitkan manusia untuk melawan segala bentuk penindasan, baik yang berasal dari imperialisme luar maupun tirani dari dalam negeri sendiri. Ia menyebutnya sebagai Islam Muhammadi, yakni Islam yang berpihak kepada kaum tertindas (mustadh'afin), memperjuangkan keadilan sosial, serta mendorong perubahan sejarah. Sebaliknya, ia mengkritik apa yang disebutnya sebagai Islam Safawi, yaitu agama yang kehilangan daya kritis dan justru menjadi alat legitimasi kekuasaan.
Di sinilah letak kekuatan terbesar pemikiran Syariati. Ia mengubah agama dari sekadar simbol identitas menjadi energi sosial. Masjid, universitas, dan ruang publik bukan hanya tempat beribadah atau belajar, melainkan arena membangun kesadaran kolektif bangsa. Dalam kerangka ini, kemerdekaan bukan sekadar bebas dari penjajahan fisik, tetapi juga bebas dari ketergantungan intelektual dan ekonomi.
Syariati juga mengembangkan gagasan tentang manusia sebagai makhluk yang memiliki kebebasan, kesadaran, dan tanggung jawab sejarah. Ia menolak pandangan fatalistik yang menganggap perubahan sepenuhnya ditentukan oleh takdir, sekaligus menolak determinisme ekonomi ala Marxisme yang mengurangi manusia menjadi produk struktur sosial. Menurutnya, manusia adalah pelaku sejarah. Karena itu, perubahan sosial hanya mungkin terjadi apabila lahir manusia-manusia yang sadar dan bertanggung jawab.
Ungkapannya yang terkenal, "Setiap hari adalah Asyura dan setiap tempat adalah Karbala," bukan sekadar slogan religius. Kalimat itu merupakan ajakan agar setiap generasi berani melawan ketidakadilan sesuai konteks zamannya. Perlawanan terhadap kezaliman bukanlah peristiwa sejarah yang selesai pada abad ketujuh, melainkan tugas moral yang terus hidup dalam setiap masyarakat.
Pandangan tersebut kemudian membentuk etos kemandirian yang berkembang di Iran. Revolusi, bagi Syariati, bukan hanya pergantian rezim politik. Revolusi harus melahirkan manusia baru yang memiliki integritas, etos kerja, disiplin, dan kepercayaan diri. Tanpa perubahan mental, perubahan politik hanya akan menghasilkan elite baru dengan pola lama.
Karena itu, revolusi yang dibayangkan Syariati selalu memiliki dua dimensi sekaligus: spiritual dan sosial. Spiritualitas membangun karakter manusia, sedangkan transformasi sosial membangun keadilan. Keduanya tidak dapat dipisahkan. Bangsa yang hanya mengejar pembangunan ekonomi tanpa fondasi moral akan kehilangan arah, sementara bangsa yang hanya menekankan ritual tanpa perubahan sosial akan terjebak dalam stagnasi.
Tidak mengherankan jika Syariati juga mengkritik tiga kekuatan besar sekaligus. Ia mengkritik kapitalisme karena melahirkan ketimpangan dan menjadikan manusia sekadar objek pasar. Ia mengkritik Marxisme karena mengabaikan dimensi spiritual manusia. Ia pun mengkritik klerikalisme ketika agama berubah menjadi instrumen kekuasaan yang membungkam kritik. Posisi intelektual seperti ini menunjukkan bahwa Syariati tidak sedang menawarkan kompromi ideologis, melainkan paradigma alternatif yang memadukan spiritualitas, keadilan sosial, dan pembebasan manusia.
Walaupun Ali Syariati wafat pada 1977, dua tahun sebelum Revolusi Islam Iran, pengaruh intelektualnya tetap terasa. Banyak generasi muda, mahasiswa, aktivis, dan kalangan terdidik yang menjadikan karya-karyanya sebagai sumber inspirasi untuk membangun Iran yang lebih mandiri. Tentu saja, perkembangan Iran pasca-1979 dipengaruhi oleh banyak faktor—politik, kepemimpinan, dinamika internasional, dan kebijakan negara—sehingga tidak dapat direduksi hanya pada pemikiran Syariati. Namun, sulit dipungkiri bahwa gagasan tentang kesadaran, harga diri bangsa, dan penolakan terhadap ketergantungan telah menjadi bagian penting dari fondasi intelektual masyarakat Iran modern.
Di tengah dunia yang semakin dipenuhi persaingan teknologi, dominasi ekonomi global, dan perang informasi, pesan Syariati tetap relevan. Kemandirian bangsa tidak cukup dibangun melalui investasi atau pembangunan infrastruktur semata. Kemandirian memerlukan manusia yang percaya pada kemampuan bangsanya sendiri, memiliki tradisi berpikir kritis, menghargai ilmu pengetahuan, dan berani menciptakan inovasi.
Indonesia dapat mengambil pelajaran penting dari pemikiran tersebut. Kemandirian nasional bukan berarti menutup diri dari dunia, tetapi membangun kapasitas domestik agar mampu berdialog secara setara dengan bangsa lain. Ketergantungan teknologi, pangan, energi, maupun ilmu pengetahuan tidak akan selesai hanya dengan kebijakan ekonomi. Ia membutuhkan revolusi kesadaran, sebagaimana diyakini Ali Syariati.
Menurut pemahaman Penulis, warisan terbesar Ali Syariati bukanlah teori sosial atau slogan revolusioner, melainkan keyakinannya bahwa gagasan mampu mengubah sejarah. Ia menunjukkan bahwa perubahan besar selalu diawali oleh perubahan cara berpikir. Ketika sebuah bangsa menemukan kembali kepercayaan terhadap dirinya sendiri, gagasan tidak lagi sekadar menjadi wacana, melainkan menjelma menjadi kekuatan yang menggerakkan peradaban.
Dari Kesadaran menuju Kemandirian Nasional
Semangat yang diwariskan Ali Syariati menemukan relevansinya ketika Iran memasuki babak baru setelah Revolusi Islam 1979. Meski dinamika politik pascarevolusi dibentuk oleh banyak aktor dan faktor, gagasan Syariati tentang pentingnya kesadaran, harga diri bangsa, dan penolakan terhadap ketergantungan menjadi salah satu sumber inspirasi bagi lahirnya budaya self-reliance (kemandirian).
Selama beberapa dekade menghadapi embargo ekonomi, pembatasan akses teknologi, dan tekanan geopolitik, Iran terdorong untuk mengembangkan kemampuan dalam negeri. Negara itu berinvestasi besar pada pendidikan tinggi, riset, kesehatan, teknologi, industri pertahanan, energi, hingga pengembangan antariksa. Keterbatasan akses terhadap teknologi asing justru mendorong lahirnya berbagai inovasi domestik, meskipun kualitas dan keberhasilannya tentu masih menjadi bahan evaluasi dan perdebatan.
Fenomena tersebut menunjukkan bahwa kemandirian nasional tidak hanya dibangun melalui kebijakan negara, tetapi juga melalui pembentukan mental kolektif masyarakat. Bangsa yang percaya pada kemampuannya sendiri cenderung lebih berani mengambil risiko, mengembangkan penelitian, dan membangun industri nasional, meskipun menghadapi berbagai hambatan eksternal.
Di sinilah relevansi pemikiran Ali Syariati. Ia meyakini bahwa perubahan besar selalu diawali oleh revolusi kesadaran. Sebelum membangun pabrik, laboratorium, atau pusat teknologi, sebuah bangsa harus lebih dahulu membangun manusia yang memiliki kepercayaan diri, etos kerja, tanggung jawab sejarah, dan keberanian berpikir mandiri. Tanpa fondasi itu, pembangunan hanya akan menghasilkan ketergantungan baru kepada kekuatan luar.
Pelajaran tersebut memiliki makna penting bagi Indonesia. Sebagai negara yang kaya sumber daya alam dan memiliki bonus demografi, tantangan terbesar Indonesia bukan semata kekurangan modal atau teknologi, melainkan bagaimana membangun budaya ilmu pengetahuan, inovasi, dan kemandirian berpikir. Ketergantungan terhadap impor teknologi, bahan baku strategis, maupun pengetahuan tidak akan selesai hanya melalui regulasi atau investasi. Ia memerlukan perubahan paradigma tentang arti kemajuan.
Ali Syariati mengingatkan bahwa bangsa yang besar bukanlah bangsa yang sekadar kaya sumber daya, melainkan bangsa yang memiliki kesadaran untuk mengelola sumber daya itu dengan kemampuan sendiri. Kemandirian tidak identik dengan menutup diri dari dunia internasional. Sebaliknya, kemandirian berarti memiliki kapasitas untuk bekerja sama secara setara tanpa kehilangan kedaulatan dalam menentukan arah pembangunan nasional.
Dalam konteks global yang ditandai oleh persaingan teknologi, kecerdasan buatan, transisi energi, dan perebutan rantai pasok dunia, pesan Syariati justru semakin aktual. Negara yang mampu bertahan bukan selalu negara yang paling kaya, melainkan negara yang berhasil membangun masyarakat pembelajar, menghargai ilmu pengetahuan, dan menjadikan pendidikan sebagai investasi strategis.
Pada akhirnya, warisan terbesar Ali Syariati bukanlah sebuah sistem politik, melainkan sebuah cara berpikir. Ia mengajarkan bahwa revolusi sejati dimulai dari revolusi kesadaran; bahwa kemerdekaan politik harus disertai kemerdekaan intelektual; dan bahwa kemandirian ekonomi hanya dapat berdiri di atas fondasi manusia yang merdeka dalam berpikir.
Di tengah dunia yang terus berubah, pemikiran Ali Syariati mengingatkan bahwa gagasan bukanlah sesuatu yang abstrak. Ketika gagasan mampu membangun kesadaran kolektif, ia dapat menjelma menjadi kekuatan yang menggerakkan bangsa, membentuk peradaban, dan meneguhkan kemandirian sebuah negara.
Disclaimer
Retizen adalah Blog Republika Netizen untuk menyampaikan gagasan, informasi, dan pemikiran terkait berbagai hal. Semua pengisi Blog Retizen atau Retizener bertanggung jawab penuh atas isi, foto, gambar, video, dan grafik yang dibuat dan dipublished di Blog Retizen. Retizener dalam menulis konten harus memenuhi kaidah dan hukum yang berlaku (UU Pers, UU ITE, dan KUHP). Konten yang ditulis juga harus memenuhi prinsip Jurnalistik meliputi faktual, valid, verifikasi, cek dan ricek serta kredibel.

9 hours ago
9








































