REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA, – Ketua Majelis Kehormatan Perhimpunan Dokter Paru Indonesia (PDPI) Prof Tjandra Yoga Aditama menyatakan bahwa indikator kualitas udara menjadi informasi vital bagi masyarakat dalam menghadapi paparan asap kebakaran hutan dan lahan (karhutla). Informasi ini diperlukan agar warga dapat mengetahui tingkat bahaya udara di lingkungannya sebelum beraktivitas.
Menurut Tjandra, indikator yang diperbarui secara berkala dan menggunakan kategori warna seperti merah, kuning, atau hijau, wajib menjadi patokan utama. Hal ini penting terutama saat warga akan memutuskan untuk keluar rumah, bekerja, atau menyekolahkan anak.
"Ada penjelasan dari pemerintah ke masyarakat di lokasi itu kadarnya berapa saat ini, sesuai dengan indikator yang ada," ujar Tjandra kepada ANTARA, Sabtu (5/9).
Patokan Warna untuk Aktivitas Harian
Ia menjelaskan secara rinci bagaimana masyarakat seharusnya menyikapi setiap kategori warna pada indikator kualitas udara. Jika indikator sudah menunjukkan warna merah, masyarakat sangat dianjurkan untuk tidak keluar rumah.
"Kalau sudah merah ya jangan keluar rumah, itu pantes untuk sekolah dari rumah, kerja dari rumah. Tapi kalau yang masih kuning ya itu mungkin masih bisa dipertimbangkan tergantung juga apakah sekolahnya punya fasilitas yang cukup baik untuk membuat udara di dalam kelas itu cukup bersih," kata dia lagi.
Guru Besar Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia itu menegaskan, penyediaan indikator kualitas udara ini merupakan salah satu anjuran Organisasi Kesehatan Dunia (WHO). Tujuannya untuk memberikan informasi kadar polutan dari waktu ke waktu dan menjadi acuan bagi warga, pengelola sekolah, serta pemerintah setempat dalam mengambil langkah tepat.
Rekomendasi Masker dan Perlindungan Dalam Ruangan
Bagi warga di daerah terdampak karhutla yang terpaksa beraktivitas di luar ruangan, Tjandra menyarankan penggunaan masker. Jenis masker yang digunakan dapat disesuaikan dengan tingkat kepekatan asap.
Ia menyarankan petugas pemadam kebakaran hutan untuk menggunakan respirator, bukan sekadar masker kain. Sementara itu, masyarakat umum yang hendak pergi ke kantor atau sekolah diimbau menggunakan masker dengan kualitas sebaik mungkin. "Jadi anjurannya ya pakai masker sebagus mungkin, kalau bisa N95 lebih bagus," ujar dia lagi.
Dalam upaya mencegah atau mengurangi paparan asap, Tjandra juga mengimbau masyarakat yang berada di dalam ruangan untuk menutup semua akses yang memungkinkan udara luar masuk. Penggunaan air purifier di dalam rumah juga dapat menjadi opsi jika sudah tersedia, namun ia menekankan bahwa tidak semua warga wajib membelinya.
"Kalau punya air purifier silakan gunakan, tapi bukan artinya semua orang di dalam ruangan mesti beli air purifier sekarang. Karena sekali lagi tergantung dari berapa pekatnya asap. Kita kan enggak tahu kemampuan air purifier itu bisa mengencangkan sedalam apa," kata dia pula.
Imbauan untuk Kelompok Rentan
Ia mengimbau masyarakat di daerah darurat agar segera memeriksakan diri ke fasilitas kesehatan jika muncul keluhan seperti batuk pilek. Imbauan ini terutama ditujukan pada kelompok rentan seperti lansia, anak-anak, ibu hamil, serta masyarakat dengan penyakit penyerta (komorbid).
"Jadi jangan tunggu dua tiga hari karena di sekitar kita menit demi menit kan terisap asap itu. Hari ini ada keluhan hari ini berobat ke fasilitas kesehatan supaya apa yang mau dilakukan. Mereka yang sudah punya penyakit misalnya asma mesti sesuaikan obatnya," ujar dia.
Sebelumnya, Kementerian Kesehatan mencatat 5,4 juta orang di tujuh provinsi terdampak karhutla. Tujuh provinsi yang menetapkan status siaga darurat bencana karhutla meliputi Kalimantan Selatan (Kalsel), Kalimantan Tengah (Kalteng), Kalimantan Barat (Kalbar), Kalimantan Timur (Kaltim), Jambi, Riau, dan Sumatera Selatan (Sumsel).
Direktur Pelayanan Kesehatan Kelompok Rentan Kemenkes Imran Pambudi mengatakan karhutla yang melanda sejumlah provinsi di Indonesia pada 2026 telah menimbulkan dampak kesehatan yang sangat serius. "Data Kemenkes mencatat lebih dari 50 ribu kasus ISPA hingga akhir Agustus, dengan hampir 40 ribu di antaranya terjadi pada kelompok usia di atas lima tahun, termasuk lansia," kata Imran di Jakarta, Selasa (1/9).
Konten ini diolah dengan bantuan AI.
sumber : antara

15 hours ago
15

















































