PKM Kolaborasi UWG–UBHINUS Perkuat Batik Lintang di Desa Ngijo Malang

15 hours ago 13

REPUBLIKA.CO.ID, MALANG -- Kolaborasi Universitas Widyagama Malang (UWG) dan UBHINUS dalam Program Kemitraan Masyarakat (PKM) Tahun 2026 mendorong penguatan UMKM Batik Lintang di Desa Ngijo, Kecamatan Karangploso, Kabupaten Malang. Pendampingan mempertemukan pemanfaatan teknologi desain generatif dengan pengetahuan artisan untuk memperluas eksplorasi motif tanpa menghilangkan kendali pembatik terhadap identitas, makna budaya, dan kelayakan produksi.

Program ini didanai oleh Direktorat Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat (DPPM), Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi (Kemdiktisaintek) Tahun 2026. Hingga periode laporan kemajuan 15 agustus 2026, kegiatan yang telah dilaksanakan meliputi sosialisasi dan kesepakatan program, pelatihan storytelling artisan dan heritage value, pelatihan desain dan eksplorasi motif batik, serta pendampingan penerapan harga dan portofolio produk premium yang terintegrasi dengan branding digital dan storytelling produk.

Penguatan desain kemudian dihubungkan dengan pelatihan manajerial eskalasi nilai yang disampaikan oleh Dr. Sodik, Dosen Akuntansi Universitas Widya Gama Malang. Pendampingan ini mengajak mitra mengubah cara pandang dari sekadar menutup biaya produksi menuju pengelolaan nilai produk. Artisan dan pemilik usaha didampingi untuk mengenali pembentuk nilai batik, mulai dari kompleksitas pengerjaan, waktu, craftsmanship, kelangkaan desain, filosofi motif, hingga legitimasi budaya. Komponen tersebut selanjutnya digunakan untuk membedakan portofolio reguler, unggulan, dan eksklusif sehingga setiap produk tidak diperlakukan dengan logika harga yang sama.

“Produk batik tidak cukup dihitung dari bahan dan ongkos produksinya. Nilai juga dibentuk oleh proses, keterampilan artisan, kelangkaan, dan cerita budaya. Karena itu, mitra perlu mampu menjelaskan mengapa satu produk berada pada kategori reguler, unggulan, atau eksklusif, dan apa dasar nilai yang membedakannya," kata dia.

Batik Lintang memiliki modal budaya yang kuat melalui proses handmade, keterampilan pembatik, dan motif-motif Malangan. Namun, kekuatan tersebut membutuhkan sistem pengembangan desain dan pengelolaan nilai agar tetap relevan dengan perkembangan pasar tanpa kehilangan karakter budaya yang menjadi pembeda utama produk.

Ketua tim PKM, Dr. Hanif Rani Iswari, Dosen Manajemen Universitas Widya Gama Malang mengatakan teknologi dalam program ini tidak ditempatkan sebagai pengganti pembatik. Desain generatif digunakan untuk memperluas ruang eksplorasi, sedangkan artisan tetap menjadi pihak yang menentukan kesesuaian visual, filosofi, dan kemungkinan sebuah desain diwujudkan menjadi batik.

“Yang ingin kami bangun bukan batik yang bergantung pada teknologi, tetapi artisan yang mampu menggunakan teknologi secara kritis. Teknologi membantu membuka alternatif, sementara keputusan tentang identitas, makna, kualitas, dan kelayakan produksi tetap berada pada pembatik," kata dia.

Pendekatan tersebut penting karena visual yang dapat dihasilkan teknologi belum tentu sesuai dengan bahasa budaya Batik Lintang. Hasil eksplorasi harus dibaca kembali oleh artisan: apakah bentuknya relevan, apakah simbolnya tepat, apakah dapat diterjemahkan ke teknik batik, dan apakah memiliki posisi yang jelas dalam identitas produk.

Saiful Yahya, dosen DKV Fakultas Ekonomi Kreatif dari UBHINUS menekankan bahwa kolaborasi teknologi dan artisan harus menempatkan manusia sebagai filter utama. Menurutnya, desain generatif dapat mempercepat proses pencarian alternatif, tetapi tidak dapat mengambil alih pengetahuan kontekstual yang dibangun pembatik melalui pengalaman.

“Teknologi generatif kami tempatkan sebagai ruang eksplorasi. Pengetahuan artisan tetap menjadi filter utama karena tidak semua visual yang dapat dihasilkan teknologi memiliki kesesuaian budaya dan kelayakan untuk diterjemahkan menjadi batik,” ujar dia.

Penguatan desain kemudian dihubungkan dengan aspek manajerial. Mitra didampingi untuk membedakan produk reguler, unggulan, dan eksklusif sehingga perbedaan kompleksitas pengerjaan, kelangkaan desain, keterampilan artisan, serta nilai budaya dapat diterjemahkan ke dalam posisi produk yang lebih jelas.

Pada saat yang sama, pelatihan storytelling artisan dan heritage value diarahkan agar pengetahuan yang selama ini melekat pada pembatik tidak berhenti di ruang produksi. Filosofi motif, proses membatik, identitas artisan, dan kehidupan sehari-hari pembatik mulai disusun sebagai bahan komunikasi produk.

Ita Fitriyah, pemilik Batik Lintang, menyambut pendekatan yang tetap menempatkan pembatik sebagai pusat proses. Bagi mitra, teknologi menjadi alat bantu untuk memperluas kemungkinan, sementara pengetahuan mengenai karakter Batik Lintang tetap harus berasal dari pengalaman artisan.

“Teknologi membantu kami melihat lebih banyak kemungkinan desain, tetapi hasilnya tetap harus kami baca lagi: apakah sesuai dengan karakter Batik Lintang, dapat dibatik, dan memiliki cerita yang tepat. Karena itu, pengalaman pembatik tetap sangat penting," ujar dia.

Dr Sodik, Dosen Prodi Akuntansi Univesitas WIdya Gama, anggota tim PKM, menekankan, fokus PKM ini berada pada penguatan kapasitas, pendampingan penerapan, kurasi hasil eksplorasi motif, penguatan kategori produk premium, pengembangan koleksi tematik terbatas, dokumentasi desain dan narasi, serta produksi konten digital secara bertahap.

Kolaborasi Widya Gama dan UBHINUS diharapkan memperkuat proses transfer pengetahuan dua arah antara perguruan tinggi dan pelaku usaha budaya. Teknologi membawa kemungkinan baru dalam eksplorasi, sementara artisan menjaga pengetahuan, konteks, dan makna yang membuat batik tetap memiliki identitas.

Melalui pendekatan tersebut, penguatan Batik Lintang tidak diarahkan semata pada digitalisasi atau peningkatan produksi. Program menempatkan inovasi sebagai alat untuk memperkuat kapasitas artisan sehingga pengembangan produk, pengelolaan nilai, dan komunikasi budaya dapat dilanjutkan secara lebih mandiri setelah program pendampingan berakhir.

Read Entire Article
Berita Republika | International | Finance | Health | Koran republica |