REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Perkembangan artificial intelligence (AI) yang semakin pesat telah mengubah cara industri bekerja dan melahirkan berbagai profesi baru. Di tengah transformasi digital itu, muncul pertanyaan yang kerap menjadi kekhawatiran masyarakat: benarkah AI akan menggantikan pekerjaan manusia?
Menjawab keresahan tersebut, Universitas Nusa Mandiri (UNM) sebagai Kampus Digital Bisnis menegaskan AI bukanlah ancaman, melainkan teknologi yang harus dipahami dan dimanfaatkan sebagai pendukung produktivitas.
Tantangan terbesar justru bukan hadirnya AI, melainkan kesiapan sumber daya manusia dalam beradaptasi dengan perubahan teknologi.
Ketua Program Studi (Prodi) Magister Informatika UNM , Prof Dr Agus Subekti, mengatakan, masa depan dunia kerja tidak ditentukan oleh siapa yang paling kuat, tetapi oleh siapa yang mampu terus belajar dan beradaptasi.
“AI tidak akan menggantikan manusia, tetapi manusia yang mampu memanfaatkan AI akan memiliki keunggulan dibandingkan yang tidak mau meningkatkan kompetensinya. Karena itu, budaya belajar sepanjang hayat (lifelong learning) menjadi kebutuhan mutlak di era transformasi digital,” ujarnya dalam rilis yang diterima Kamis (9/7/2026).
Menurut Prof Agus, industri saat ini membutuhkan talenta yang tidak hanya mampu menggunakan teknologi, tetapi juga mampu merancang solusi berbasis teknologi.
Kompetensi di bidang AI, Big Data, Software Engineering, Blockchain, Cyber Security, hingga Digital Leadership menjadi kemampuan yang semakin dibutuhkan oleh perusahaan nasional maupun global.
Melihat kebutuhan tersebut, UNM menghadirkan Program Studi Magister Informatika (S2) yang dirancang untuk menghasilkan lulusan yang adaptif, inovatif, dan mampu menjadi pemimpin transformasi digital.
Ia menegaskan, program ini terbuka bagi lulusan berbagai disiplin ilmu maupun para profesional yang ingin meningkatkan kompetensi dan memperluas peluang karier di era digital.
Melalui kurikulum yang berbasis riset dan kebutuhan industri, mahasiswa memperoleh pengalaman belajar yang mengintegrasikan teori dengan penyelesaian berbagai permasalahan nyata.
“Kami tidak hanya membekali mahasiswa dengan penguasaan teknologi, juga kemampuan analitis, riset, inovasi, dan kepemimpinan digital. Harapannya, lulusan Magister Informatika UNM mampu menjadi problem solver yang siap menghadapi tantangan industri 5.0,” paparnya.
Dalam proses pembelajaran, mahasiswa akan mempelajari berbagai teknologi mutakhir seperti Artificial Intelligence, Big Data Analytics, Blockchain, Internet of Things (IoT), Cloud Computing, hingga pengembangan sistem cerdas.
Seluruh materi disampaikan oleh dosen akademisi yang dipadukan dengan praktisi industri sehingga mahasiswa mendapatkan wawasan akademik sekaligus pengalaman praktis.
“Lulusan Program Magister Informatika UNM memiliki prospek karier luas, mulai dari Data Scientist, AI Engineer, Senior Software Engineer, IT Project Manager, System Architect, IT Consultant, hingga Technopreneur yang mampu menciptakan inovasi berbasis teknologi,” katanya.
Di tengah perubahan teknologi yang berlangsung sangat cepat, peningkatan kompetensi menjadi investasi penting bagi masa depan karier. Karena itu, UNM terus mendorong masyarakat untuk tidak sekadar menjadi pengguna teknologi, tetapi menjadi inovator yang mampu menciptakan solusi digital bagi berbagai sektor kehidupan.
Bagi masyarakat yang ingin meningkatkan jenjang karier sekaligus memperdalam kompetensi di bidang teknologi informasi, Program Magister Informatika Universitas Nusa Mandiri sebagai Kampus Digital Bisnis membuka pendaftaran mahasiswa baru Tahun Akademik 2026/2027.
Informasi lengkap mengenai pendaftaran dapat diakses melalui https://pmb.nusamandiri.ac.id.

5 hours ago
9










































