REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA — Recep Tayyip Erdogan kini berdiri di titik paling sensitif dalam peta kekuatan dunia. Di Ankara, Presiden Amerika Serikat Donald Trump datang dengan karpet merah politik untuk Turki. Di Moskow, Vladimir Putin tetap melihat Erdogan sebagai pemimpin yang dapat dipercaya meski keduanya kerap berseberangan. Namun, di Yerusalem, Benjamin Netanyahu justru melihat Erdogan sebagai ancaman strategis baru.
Ketegangan itu meledak pada momentum KTT NATO di Ankara. Reuters, Selasa, 7 Juli 2026, memberitakan Trump menyatakan akan mencabut sanksi terhadap Turki yang dijatuhkan karena pembelian sistem rudal S-400 Rusia. Trump juga membuka peluang penjualan jet tempur siluman F-35 kepada Ankara. “Kita tidak ingin memberi sanksi kepada teman,” kata Trump. Ia bahkan mengatakan tidak memiliki kekhawatiran terkait Turki dan menyebut hubungan Washington-Ankara mungkin berada pada titik terbaiknya.
Di tempat yang sama, Erdogan membalas dengan bahasa personal. Menurut Reuters dalam laporan yang sama, Erdogan mengatakan Turki pernah dijanjikan lima jet F-35 oleh Amerika Serikat. “Saya tahu Tuan Trump selalu menepati janji,” kata Erdogan. Kalimat itu penting karena menggambarkan relasi Erdogan-Trump bukan sekadar hubungan dua negara NATO, melainkan hubungan personal dua pemimpin yang saling memahami bahasa kekuasaan, transaksi, dan loyalitas politik.
Namun, bagi Netanyahu, kemungkinan F-35 kembali masuk ke Turki bukan perkara biasa. Reuters, Rabu, 8 Juli 2026, memberitakan Menteri Pertahanan AS Pete Hegseth membatalkan pertemuan yang dijadwalkan dengan Netanyahu untuk membahas kemungkinan penjualan F-35 kepada Turki. Dalam wawancara dengan CNN pada Selasa sebelumnya, Netanyahu menyatakan menentang penjualan itu dan sudah menyampaikan keberatannya kepada Trump. “Itu akan menghancurkan keseimbangan kekuatan di Timur Tengah karena Turki memiliki aspirasi agresif,” kata Netanyahu sebagaimana diberitakan Reuters.
Di sinilah makna “ketakutan” Netanyahu harus dibaca. Ini bukan sekadar ketidaksukaan personal terhadap Erdogan, melainkan kecemasan strategis Israel terhadap perubahan keseimbangan udara, militer, dan diplomasi di Timur Tengah. Selama puluhan tahun, Israel sangat bergantung pada keunggulan militernya di kawasan. Jika Turki, negara anggota NATO dengan militer sangat besar, kembali mendapatkan F-35, posisi Ankara dalam konflik Suriah, Gaza, Lebanon, Iran, Mediterania Timur, dan Laut Hitam akan melonjak tajam.
Axios, media Amerika Serikat, pada Senin, 6 Juli 2026, memberitakan Netanyahu meminta Trump “menahan” Erdogan menjelang KTT NATO di Ankara. Axios menulis Netanyahu juga meminta Trump tidak menjual sistem persenjataan yang dapat membantu Turki memodernisasi angkatan udaranya. Dalam laporan itu, Axios menyebut agenda Washington-Ankara mencakup kemungkinan kesepakatan mesin jet senilai 700 juta dolar AS dan peluang Turki kembali masuk program F-35.
Permintaan Netanyahu kepada Trump menunjukkan satu hal: Israel mulai melihat Erdogan bukan hanya sebagai pengkritik keras, tetapi sebagai pesaing geopolitik yang semakin dekat dengan Gedung Putih. Axios menulis, pengaruh Netanyahu di Washington sedang dipertanyakan karena Trump menjaga hubungan dekat dengan Netanyahu sekaligus Erdogan. Pada saat yang sama, keuntungan finansial dari penjualan senjata AS ke Turki juga menjadi faktor yang tidak bisa diabaikan.
sumber : Xinhua

12 hours ago
12










































