Amran Tegaskan Papua Pegunungan Fokus Kembangkan Ubi Jalar, Bukan Cetak Sawah

11 hours ago 17

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Menteri Pertanian (Mentan) Andi Amran Sulaiman menegaskan pembangunan pertanian di Papua Pegunungan akan difokuskan pada pengembangan ubi jalar, bukan melalui program cetak sawah. Pemerintah memilih ubi jalar sebagai komoditas pangan utama karena telah menjadi bagian dari budaya dan kehidupan masyarakat setempat.

Komitmen tersebut disampaikan Amran saat menerima Wakil Gubernur Papua Pegunungan, Ones Pahabol, di kediamannya, Kamis (2/7/2026). Pertemuan itu membahas strategi pengembangan ubi jalar sebagai komoditas unggulan yang disesuaikan dengan kondisi geografis, budaya, dan kebiasaan masyarakat Papua Pegunungan.

"Ini adalah kearifan lokal berdasarkan kebiasaan dan budaya masyarakat. Jadi program di Papua Pegunungan bukan program cetak sawah, tetapi pengembangan ubi jalar sebagai komoditas pangan utama masyarakat," kata Mentan.

Sebagai tahap awal, Kementerian Pertanian (Kementan) akan mengembangkan kawasan budidaya ubi jalar seluas sekitar 100 hingga 200 hektare di setiap kabupaten di Papua Pegunungan. Program tersebut akan dievaluasi sebelum diperluas sesuai hasil di lapangan dan kemampuan anggaran pemerintah.

Amran menjelaskan kawasan itu akan dipersiapkan menjadi lumbung pangan berbasis ubi jalar. Pengembangannya dilakukan secara bertahap agar dapat memberi manfaat nyata bagi masyarakat.

"Kita mulai dulu sekitar 100 sampai 200 hektare per kabupaten. Kalau berhasil, tahun depan kita tingkatkan lagi sesuai kemampuan anggaran. Ini akan kita bangun menjadi kawasan lumbung pangan berbasis ubi," ujarnya.

Pemerintah mengutamakan penggunaan benih lokal yang dibeli langsung dari masyarakat Papua. Langkah tersebut diharapkan dapat menggerakkan perekonomian daerah sekaligus memperkuat sistem pembibitan di tingkat lokal.

Kementan menyiapkan bantuan sarana produksi yang disesuaikan dengan pola budidaya masyarakat Papua Pegunungan, seperti linggis, parang, sekop, kapak, serta peralatan pendukung lainnya.

"Bagaimana kalau benihnya kita beli langsung dari masyarakat? Jadi tidak perlu didatangkan dari luar. Pembibitan kita bangun di lokasi supaya ekonomi bisa berputar di daerah sendiri," kata Amran.

Ia menambahkan pengembangan ubi jalar tidak hanya diarahkan untuk memenuhi kebutuhan pangan masyarakat Papua Pegunungan. Pemerintah juga menyiapkan pengolahan pascapanen agar produk memiliki nilai tambah dan masa simpan lebih panjang, termasuk melalui teknologi pengeringan (dryer). Menurut Amran, ubi jalar Papua memiliki prospek ekonomi yang besar karena sesuai dengan karakteristik iklim setempat dan memiliki peluang pasar yang luas.

"Kita dorong pengembangan ubi dalam skala besar agar bisa memenuhi kebutuhan masyarakat Papua Pegunungan, baik untuk konsumsi maupun dijual. Ke depan juga bisa diolah agar memiliki nilai tambah dan masa simpan yang lebih panjang. Untuk itu kita akan melihat kebutuhan teknologi pengeringan atau dryer," jelasnya.

Wakil Gubernur (Wagub) Papua Pegunungan Ones Pahabol mengatakan sekitar 99 persen masyarakat di wilayahnya hingga kini masih mempertahankan ubi jalar sebagai pangan pokok. Menurut dia, pembangunan pertanian perlu menghormati nilai historis dan budaya masyarakat Papua.

"Papua Pegunungan adalah tanah rakyat Papua. Sebanyak 99 persen masyarakat kami masih mempertahankan budaya makan ubi jalar dan tidak akan beralih menjadi daerah persawahan. Kami berharap pemerintah dapat mengangkat dan menghormati nilai historis serta budaya masyarakat Papua Pegunungan," ujar Ones.

Wagub berharap pengembangan ubi jalar di Papua Pegunungan dapat menjadi model pembangunan pertanian berbasis kearifan lokal yang diterapkan di wilayah Papua lainnya, termasuk Papua Tengah. Pertemuan tersebut mempertegas arah pembangunan pertanian di Papua yang bertumpu pada potensi daerah, budaya masyarakat, dan komoditas lokal sebagai penggerak ketahanan pangan serta kesejahteraan petani.

Read Entire Article
Berita Republika | International | Finance | Health | Koran republica |