REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Kompleksitas serangan siber terhadap ekosistem aset kripto terus berkembang seiring meningkatnya nilai aset digital. Kondisi tersebut mendorong industri memanfaatkan kecerdasan buatan atau artificial intelligence (AI) untuk memperkuat sistem keamanan dan mempercepat deteksi potensi ancaman.
Berdasarkan data DeFiLlama, sedikitnya 127 insiden keamanan menyebabkan kerugian sekitar 947 juta dolar AS sepanjang Januari hingga Juni 2026. Kondisi tersebut menunjukkan pola serangan terhadap ekosistem blockchain semakin kompleks sehingga membutuhkan pendekatan keamanan yang lebih adaptif.
Kompleksitas ancaman tersebut terlihat dari dua insiden peretasan pada April 2026 yang menimpa Drift Protocol dan KelpDAO dengan total kerugian sekitar 577 juta dolar AS. Laporan TRM Labs mencatat kedua insiden itu menyumbang sekitar 76 persen dari total nilai aset kripto yang dicuri hingga April 2026. Selain mengeksploitasi celah pada kode, pelaku juga mulai menyasar infrastruktur blockchain dan memanfaatkan rekayasa sosial atau social engineering.
CEO Indodax William Sutanto mengatakan, perkembangan AI membuka peluang bagi industri aset kripto dan blockchain untuk memperkuat sistem keamanan secara lebih proaktif.
"Yang berubah saat ini bukan hanya jumlah serangan yang terjadi, tetapi juga tingkat kompleksitasnya. Pelaku kejahatan siber semakin terorganisir dan memanfaatkan berbagai metode yang sulit dideteksi dengan pendekatan konvensional. Karena itu, sistem keamanan juga harus mampu beradaptasi lebih cepat, dan AI menjadi salah satu teknologi yang memiliki potensi besar untuk mendukung upaya tersebut," ujar William.
Menurut William, berbeda dengan audit tradisional yang dilakukan secara berkala, AI memungkinkan analisis smart contract dan pemantauan risiko secara berkelanjutan sehingga berbagai potensi kerentanan dapat diidentifikasi lebih cepat sebelum berkembang menjadi insiden yang lebih besar.
Sejumlah perusahaan teknologi telah memanfaatkan AI untuk memperkuat keamanan blockchain, di antaranya Frosty yang dikembangkan Coinbase dan Mythos dari Anthropic. Teknologi tersebut mendukung audit internal, analisis smart contract, pemantauan aktivitas on-chain, hingga identifikasi transaksi yang tidak wajar secara real-time.
Meski demikian, William menegaskan, AI bukan satu-satunya solusi dalam menjaga keamanan aset digital. Ia menegaskan, AI bertindak sebagai resource multiplier yang mempercepat deteksi teknis. Namun, keamanan blockchain tetaplah ekosistem dengan perlindungan berlapis.
“Fondasinya terletak pada tata kelola yang teregulasi, audit independen, manajemen akses yang ketat, peningkatan kesadaran di tingkat pengguna, termasuk KYC dan security hygiene, serta sumber daya manusia yang kompeten dalam mengambil keputusan yang tepat. Karena, teknologi secanggih apa pun tetap membutuhkan kompetensi, integritas, dan human judgement di belakangnya," kata William.
William mengatakan, keunggulan AI saat ini tidak hanya terletak pada kemampuan mempercepat proses analisis, tetapi juga mendukung pemantauan risiko secara berkelanjutan. Pendekatan tersebut memungkinkan pelaku industri mendeteksi potensi ancaman lebih dini sekaligus mempercepat langkah mitigasi.
"Ke depan, ukuran keamanan blockchain tidak lagi hanya ditentukan oleh seberapa sering sebuah sistem diaudit, tetapi juga oleh seberapa cepat sistem tersebut mampu mendeteksi, menganalisis, dan merespons ancaman yang terus berkembang. Di sinilah AI mulai mengambil peran yang semakin penting sebagai pendukung sistem keamanan yang lebih adaptif," ujar William.
William mengatakan, Indodax terus memperkuat standar keamanan melalui penerapan teknologi, tata kelola, dan edukasi kepada pengguna. Salah satunya dilakukan melalui kerja sama dengan Chainalysis untuk memperkuat pemantauan aktivitas on-chain, manajemen risiko, dan sistem kepatuhan guna mendukung peningkatan standar keamanan industri aset kripto nasional.

9 hours ago
16














































