Dari Ngopi, Disertasi hingga Impian Kampung Jepang

7 hours ago 11

Image Ilham Tirta

Pendidikan | 2026-08-17 22:14:24

Umar Jahidin

Olen Umar Jahidin / Direktur Utama LPK PT. Alvin Group, Alumnus FAI UMS Solo dan Mahasiswa Doktoral Ekonomi Manajemen UMJ Jakarta

Ada kalanya sebuah hari yang tampaknya biasa saja justru menyimpan banyak cerita. Begitulah yang saya rasakan pada Ahad (16/8/2026) hingga Senin (17/8/2026) pagi.

Sebenarnya, rangkaian kegiatan saya begitu sederhana, mulai dari ngopi dan berdiskusi dengan dua orang Guru Besar. Kemudian, pulang ke Tigaraksa menonton bal-balan anak-anak Lembaga Pelatihan Kerja (LPK) di bawah PT Alvin Duta Mandiri, berlanjut turut dalam acara malam perenungan. Lalu, zoom meeting dengan Tim LPK Alvin di Jepang, hingga mengikuti Upacara 17 Agustus di lingkungan perumahan.

Namun, dari rangkaian cerita kecil itu saya melihat sesuatu yang lebih besar, yakni silaturahmi, ilmu, kewirausahaan, anak-anak muda, dan mimpi tentang masa depan yang ternyata bisa bertemu dalam satu ruang.

Pada minggu siang, saya bertemu dengan seorang sahabat di sebuah kafe sekitaran Kalibata City. Ia seorang Guru Besar, sekaligus adik kelas saya ketika sama-sama belajar di Pondok Shabran Universitas Muhammadiyah Surakarta. Sang Profesor datang bersama seorang profesor lain dari sebuah kampus ternama tempatnya mengajar di Jakarta.

Menariknya, sahabat saya ini sedang merintis LPK pelatihan bahasa Jepang. Siswanya pun sudah mulai ada bahkan berasal dari sejumlah SMK swasta yang cukup terkenal di Jakarta. Kami kemudian berdiskusi cukup panjang.

Ia meminta pandangan tentang bagaimana memulai dan mengembangkan proyek pelatihan tersebut. Kebetulan saya sudah lebih dahulu menggeluti bidang yang sama melalui LPK PT Alvin Duta Mandiri, selain pengalaman belasan tahun dalam penempatan Pekerja Migran Indonesia ke luar negeri.

Di sisi lain, saya juga sedang bersiap memasuki tahapan serius dalam pengerjaan disertasi studi S3. Terjadilah apa yang boleh saya sebut sebagai ‘simbiosis mutualisme’. Saya membantu dari sisi pengalaman praktis membangun dan mengelola LPK. Sebaliknya, sahabat saya membantu saya dalam hal teknis penulisan disertasi.

Sebenarnya, ada fenomena menarik di kalangan mahasiswa S3 yang berasal dari berbagai latar belakang, misalnya pejabat, pengusaha, politisi, profesional, dan praktisi. Umumnya mereka sangat menguasai materi yang akan diteliti. Maklum, bahan disertasi biasanya lahir dari dunia yang sehari-hari mereka geluti.

Mereka mengetahui persoalan, apa yang hendak diteliti, bahkan sudah memahami variabel independen, dependen, intervening, dan tujuan akhir penelitian. Tetapi, ketika pengalaman dan pengetahuan tersebut harus dituangkan ke dalam bahasa akademik, dengan mengikuti template, sistematika, selingkung perguruan tinggi, metodologi, dan berbagai ketentuan teknis lainnya, tidak sedikit yang mengalami kesulitan. Saya pun demikian.

Oleh karenanya, pertemuan dengan profesor sahabat saya menjadi menarik. Saya belajar dari pengalaman akademiknya, sedangkan ia belajar dari pengalaman praktis saya. Bukankah ilmu memang seyogianya dipertukarkan?

Kemeriahan Perayaan HUT RI

Sore harinya, saya kembali ke rumah di Tigaraksa, Tangerang. Ternyata, di rumah sudah menunggu Panitia Kegiatan 17-an. Saya langsung ‘ditodong’ ikut menyaksikan pertandingan final balbalan persahabatan antara siswa LPK Alvin dengan pemuda setempat. Saya bahkan diminta ikut menyerahkan hadiah kepada para pemenang. Saya tersenyum sendiri.

Pagi hari membahas LPK dan disertasi bersama dua profesor, lantas sore harinya menonton anak-anak LPK bermain balbalan. Dua dunia yang kelihatannya berbeda, tetapi sebenarnya memiliki hubungan yang sama, yakni membangun manusia.

Anak-anak yang sedang belajar bahasa Jepang itu bukan sekadar siswa LPK. Mereka adalah anak-anak muda yang sedang mempersiapkan diri untuk memasuki dunia kerja, membawa harapan keluarga, dan kelak mencari pengalaman di negeri orang.

Malam harinya, kegiatan berlanjut dengan acara perenungan menjelang HUT Kemerdekaan. Sayangnya, saya hanya bisa mengikuti separuh acara. Karena, pada pukul 21.00, saya harus mengikuti zoom meeting dengan tim overseas relation PT Alvin yang sudah sekitar satu pekan berada di Jepang.

Anggota tim, Ayunda dan Azizah, menyampaikan perkembangan mereka selama berada di Jepang. Alhamdulillah, ada sejumlah mitra lokal yang sudah siap menjalin kerja sama dengan berbagai bidang pekerjaan yang tersedia, seperti perikanan darat atau tambak, caregiver, pengolahan makanan, welder, restoran, hingga pertanian.

Sementara itu, sebagian siswa PT Alvin sebelumnya juga sudah mendapatkan peluang pekerjaan. Sekitar 35 orang terdaftar untuk pekerjaan ground handling bandara di Tokyo, 10 orang di bidang konstruksi atau interior, dan 9 orang sebagai caregiver melalui mitra konsorsium P3MI yang bekerja sama dengan LPK Alvin.

Mendengar perkembangan tersebut, saya tentu bersyukur. Jumlah siswa PT Alvin yang saat ini sudah hampir 200 orang, dan September akan bertambah dua kelas atau 60-an siswa baru, tidak mengalami masalah dalam hal penempatan, kelak di Jepang.

Perjalanan ini tentu belum selesai. Tetapi setidaknya mulai terlihat bahwa pelatihan tidak boleh berhenti pada ruang kelas. Anak-anak wajib belajar, memperoleh kompetensi, kemudian memiliki jalan menuju dunia kerja.

Itulah sebabnya membangun jaringan dengan mitra di Jepang menjadi bagian penting dari pekerjaan LPK. Sebab bagi kami, ukuran keberhasilan bukan semata-mata berapa banyak siswa yang bisa direkrut. Tetapi berapa banyak dari mereka yang akhirnya bisa bekerja, mandiri, dan mengubah kehidupan keluarganya kemudian hari.

Esok paginya, pada Senin (17/8/2026), ada pemandangan lain yang menarik. Dalam upacara HUT Kemerdekaan Republik Indonesia di lingkungan perumahan, mayoritas petugas upacara adalah anak-anak LPK, mulai dari komandan upacara, pembawa dan pengibar bendera, ajudan inspektur upacara, dan beberapa posisi lain LPK.

Saya melihatnya bukan sekadar kegiatan seremonial. Ada pesan sosial yang jauh lebih penting. Bahwa anak-anak LPK yang setahun lalu mungkin masih dianggap sebagai pendatang, kini justru dipercaya menjadi bagian dari kegiatan penting masyarakat. Ini sekaligus menjadi tanda bahwa keberadaan LPK dengan ratusan siswa telah mulai diterima oleh masyarakat setempat.

Last but not least, saya mencoba flashback sejenak tentang perjalanan setahun terakhir. Awalnya, saya sempat bertanya dalam hati, mungkinkah anak-anak LPK belajar sekaligus tinggal di lingkungan perumahan tempat saya tinggal?

Saat itu, pemikiran saya sederhana. Kebetulan saya memiliki belasan rumah yang bisa dimanfaatkan. Kalau satu atau dua rumah digunakan untuk tempat belajar dan tinggal, mungkin bisa menampung sekitar 35 hingga 70 siswa.

Selain itu, PT Alvin sudah memiliki gedung yang dikontrak di Jelambar, Jakarta Barat, dan sebentar lagi akan mengembangkan kegiatan di Kota Serang, Banten.

Ternyata, perkembangannya jauh di luar dugaan. Bukan hanya rumah-rumah milik saya. Rumah-rumah warga yang kosong pun mulai terbuka untuk ditempati anak-anak LPK. Kini, sudah ada belasan rumah warga yang dapat dimanfaatkan untuk tempat tinggal atau kos siswa, ruang belajar, bahkan dapur umum.

Sampai akhir tahun, kami menargetkan sekitar 200 siswa dapat belajar dan tinggal di kawasan perumahan ini.

Impian Kampung Jepang

Dari sinilah kemudian muncul sebuah impian. Kalau di Pare, Jawa Timur, ada Kampung Inggris. Anak-anak dari berbagai daerah datang untuk belajar bahasa Inggris dalam sebuah lingkungan yang mendukung proses pembelajaran.

Kami lalu mulai berdiskusi dengan beberapa tokoh masyarakat setempat. Mungkinkah suatu hari nanti akan lahir Kampung Jepang? Tentu saja ini masih sebuah impian. Tetapi bukankah banyak hal besar memang bermula dari sebuah impian kecil?

Kampung Jepang yang kami bayangkan bukan sekadar tempat belajar bahasa Jepang, tetapi sebuah ekosistem kecil tempat belajar bahasa, pembentukan karakter, pelatihan keterampilan, tempat tinggal siswa, dapur bersama, pusat informasi pekerjaan, hingga ruang bertemunya calon tenaga kerja Indonesia dengan mitra Jepang.

Kalau suatu saat 200 anak muda belajar di sini, lalu jumlahnya berkembang menjadi 300, 500, atau bahkan lebih, tentu akan muncul aktivitas ekonomi baru. Warung makan tumbuh, rumah warga yang kosong menjadi produktif, transportasi bergerak, usaha kecil berkembang, dan yang lebih penting, lingkungan masyarakat ikut menjadi bagian dari proses pendidikan anak-anak muda yang sedang mempersiapkan masa depan

Barangkali inilah makna lain dari peringatan kemerdekaan. Kemerdekaan tidak cukup dirayakan dengan upacara, lomba, bendera, dan seremoni. Kemerdekaan juga harus diterjemahkan menjadi kesempatan bagi anak-anak muda untuk belajar, bekerja, dan memiliki masa depan.

Akhirnya, di penghujung tulisan, saya mencoba membatini suasana 17 Agustus tahun ini di mana sehari sebelumnya saya berdiskusi tentang LPK dan disertasi dengan dua profesor, kemudian sore harinya menonton anak-anak calon pekerja migran Indonesia (CPMI) bermain balbalan, lalu malamnya berdiskusi dengan tim yang sedang bekerja untuk membuka jalan kerja sama di Jepang, dan paginya melihat anak-anak LPK menjadi petugas upacara bersama warga.

Semua tampak seperti peristiwa kecil. Tetapi jika dirangkai, semuanya memiliki satu benang merah, yakni membangun manusia untuk masa depan bangsa.

Mungkin di situlah sejatinya pekerjaan kita sebagai generasi yang lebih dahulu memperoleh kesempatan, yaitu membuka jalan agar generasi setelah kita memiliki kesempatan yang lebih baik. Dan kalau kelak, dari sebuah perumahan sederhana di Tigaraksa benar-benar tumbuh sebuah Kampung Jepang, saya kira itu bukan semata-mata keberhasilan PT Alvin, tetapi keberhasilan sebuah komunitas yang sudi membuka pintu, berbagi ruang, berbagi ilmu, dan berbagi harapan.

Sebab pada akhirnya, kemerdekaan bukan hanya tentang bagaimana kita mengenang perjuangan masa lalu. Kemerdekaan adalah tentang bagaimana kita menggunakan hari ini untuk menyiapkan masa depan. Wallahu a’lam.

Disclaimer

Retizen adalah Blog Republika Netizen untuk menyampaikan gagasan, informasi, dan pemikiran terkait berbagai hal. Semua pengisi Blog Retizen atau Retizener bertanggung jawab penuh atas isi, foto, gambar, video, dan grafik yang dibuat dan dipublished di Blog Retizen. Retizener dalam menulis konten harus memenuhi kaidah dan hukum yang berlaku (UU Pers, UU ITE, dan KUHP). Konten yang ditulis juga harus memenuhi prinsip Jurnalistik meliputi faktual, valid, verifikasi, cek dan ricek serta kredibel.

Read Entire Article
Berita Republika | International | Finance | Health | Koran republica |