REPUBLIKA.CO.ID, CIAMIS — Universitas Islam Bandung (Unisba) terus memperkuat kontribusinya dalam pemberdayaan masyarakat melalui kegiatan Pengabdian kepada Masyarakat (PkM) yang berbasis pada potensi ekonomi dan kearifan lokal. Salah satu kegiatan tersebut dilaksanakan di Kampung Adat Kuta, Kabupaten Ciamis, Jawa Barat, melalui program bertajuk 'Pemberdayaan Ekonomi Masyarakat Kampung Adat Kuta melalui Koperasi Merah Putih Berbasis Produksi Gula Aren Berkelanjutan.'
Kegiatan PkM ini dilaksanakan pada Ahad, 9 Agustus 2026, dengan melibatkan tim pengabdi Universitas Islam Bandung yang terdiri atas Dr Imam Indratno sebagai ketua, serta Dr Rabiatul Adwiyah, Dr Ivan Chofyan, dan Sena Kuntoro sebagai anggota. Tim pengabdi juga bermitra dengan kelompok Koperasi Merah Putih Kampung Adat Kuta, Ciamis.
Program ini dirancang sebagai bentuk kontribusi perguruan tinggi dalam mendorong penguatan ekonomi masyarakat berbasis potensi lokal. Gula aren dipilih sebagai salah satu fokus utama karena komoditas tersebut memiliki keterkaitan erat dengan aktivitas ekonomi masyarakat. Selain itu, gula aren menjadi bagian dari pengetahuan dan kearifan lokal yang telah diwariskan secara turun-temurun.
Pelaksanaan program dilakukan melalui beberapa tahapan. Tahap awal diarahkan pada pengenalan program sekaligus identifikasi potensi dan permasalahan yang dihadapi masyarakat dan kelompok Koperasi Merah Putih dalam mengembangkan usaha gula aren.
Tim pengabdi Unisba melakukan dialog dan diskusi bersama masyarakat untuk memahami kondisi produksi, pengolahan, kualitas, pemasaran, serta tata kelola usaha gula aren. Proses tersebut menjadi dasar untuk menyusun pendekatan pemberdayaan yang sesuai dengan kebutuhan dan karakteristik masyarakat Kampung Adat Kuta.
Selain aspek ekonomi, tim pengabdi juga memberikan perhatian terhadap aspek sosial dan budaya. Pengembangan ekonomi di Kampung Adat Kuta perlu berjalan seiring dengan upaya mempertahankan nilai-nilai adat serta menjaga kelestarian lingkungan sebagai bagian yang tidak terpisahkan dari kehidupan masyarakat.
Selanjutnya, pada tahap kedua, kegiatan diarahkan pada penguatan kapasitas kelembagaan Koperasi Merah Putih dan pengembangan produksi gula aren yang lebih berkelanjutan. Masyarakat didorong untuk mulai membangun cara pandang bahwa gula aren tidak hanya komoditas yang dijual dalam bentuk produk primer, tetapi memiliki peluang dikembangkan menjadi produk bernilai tambah.
Dr Imam Indratno menyampaikan, pemberdayaan masyarakat harus diarahkan agar mereka menjadi aktor utama dalam proses pengembangan ekonomi lokal. “Tujuan utama kegiatan ini bukan hanya meningkatkan produksi gula aren, tetapi bagaimana masyarakat memiliki kapasitas mengelola potensi ekonominya secara mandiri melalui kelembagaan koperasi," kata dia. Dengan demikian, tambah Imam, nilai tambah dari komoditas gula aren dapat lebih banyak dirasakan oleh masyarakat.
Menurut dia, Koperasi Merah Putih memiliki posisi strategis sebagai wadah konsolidasi ekonomi masyarakat. Melalui koperasi, berbagai aktivitas ekonomi dapat dikelola secara lebih terorganisasi, mulai dari pengadaan kebutuhan produksi, pengolahan, peningkatan kualitas, pengemasan, pemasaran hingga pengembangan akses pasar.
“Perguruan tinggi dalam hal ini berperan sebagai mitra pendamping. Kami tidak datang untuk menggantikan peran masyarakat, tetapi bersama-sama dengan masyarakat membangun kapasitas dan menemukan solusi yang sesuai dengan potensi lokal Kampung Adat Kuta" kata Imam.
Pengembangan gula aren juga diarahkan menggunakan prinsip produksi berkelanjutan. Artinya, peningkatan aktivitas ekonomi harus tetap memperhatikan keberlanjutan sumber daya alam, kualitas lingkungan, serta keberlangsungan pengetahuan dan praktik tradisional masyarakat.
Pendekatan tersebut penting mengingat Kampung Adat Kuta memiliki kekayaan sosial dan budaya yang menjadi bagian penting dari identitas masyarakat. Karena itu, pengembangan ekonomi tidak diarahkan hanya mengejar peningkatan produksi, tetapi juga memastikan aktivitas ekonomi tetap selaras dengan nilai adat dan kelestarian lingkungan.
Dalam jangka panjang, program PkM Unisba ini diharapkan dapat mendorong pengembangan rantai nilai gula aren yang lebih kuat. Peningkatan kualitas produk, pengembangan kemasan, diversifikasi produk, perluasan akses pasar, serta penguatan tata kelola koperasi menjadi bagian penting dalam proses tersebut.
Dengan penguatan rantai nilai, masyarakat diharapkan tidak hanya memperoleh pendapatan dari penjualan bahan atau produk gula aren. Mereka juga dapat menikmati nilai tambah dari proses pengolahan, branding, pemasaran, dan pengembangan produk.
Kegiatan ini juga membuka peluang terbangunnya kolaborasi yang lebih luas antara Univesitas Islam Bandung, Koperasi Merah Putih, masyarakat Kampung Adat Kuta, pemerintah daerah, serta berbagai pemangku kepentingan lainnya. Bagi Unisba, kegiatan ini menjadi bagian dari komitmen untuk menjalankan Tri Dharma Perguruan Tinggi, khususnya dalam menghadirkan kontribusi nyata bagi masyarakat.
Pendekatan berbasis potensi lokal diharapkan dapat menghasilkan model pemberdayaan yang dapat dikembangkan dan direplikasi pada komunitas lainnya. Ke depan, tim pengabdi Unisba akan terus mendorong proses pendampingan agar program tidak berhenti pada kegiatan awal dan pelatihan, tetapi menghasilkan perubahan nyata dalam kapasitas kelembagaan, pengelolaan usaha, kualitas produk, pemasaran, serta peningkatan manfaat ekonomi bagi masyarakat.
Melalui sinergi antara Unisba dan Koperasi Merah Putih Kampung Adat Kuta, pengembangan gula aren diharapkan menjadi salah satu model pemberdayaan ekonomi masyarakat berbasis potensi lokal yang mampu memperkuat kesejahteraan masyarakat sekaligus menjaga kelestarian lingkungan dan nilai-nilai budaya Kampung Adat Kuta.

5 hours ago
9
















































