Dua Kutub Politik AS Bertemu dalam Kekhawatiran soal AI

12 hours ago 11

REPUBLIKA.CO.ID,  JAKARTA — Senator independen Bernie Sanders dan mantan kepala strategi Gedung Putih Steve Bannon hampir tidak pernah berada di sisi politik yang sama. Sanders menjadi salah satu tokoh utama gerakan progresif Amerika Serikat (AS), sementara Bannon merupakan figur berpengaruh dalam gerakan Make America Great Again (MAGA) yang dibangun Presiden Donald Trump. Namun, kecemasan terhadap perkembangan kecerdasan buatan (AI) membawa keduanya ke panggung yang sama di Washington.

Sanders dan Bannon berbicara dalam Pro-Human Assembly pada Selasa (15/9/2026), sebuah pertemuan yang mempertemukan anggota Kongres dari dua partai, pemimpin agama, aktivis, pekerja seni, dan kelompok masyarakat untuk membahas risiko perkembangan AI. Keduanya menyerukan pengawasan lebih kuat terhadap teknologi tersebut, meskipun berbeda tajam mengenai bagaimana pembatasan harus dilakukan.

Reuters melaporkan pada Selasa, 15 September 2026, Sanders dan Bannon sama-sama memperingatkan risiko AI terhadap lapangan pekerjaan, keselamatan manusia, serta konsentrasi kekuasaan pada segelintir perusahaan teknologi. Reuters menggambarkan kemunculan mereka dalam forum yang sama sebagai pertemuan langka dua lawan politik yang dipersatukan oleh kekhawatiran terhadap AI.

NPR melaporkan pada Selasa, 15 September 2026, hampir 300 orang memenuhi ruangan tempat acara tersebut berlangsung. Sanders dan Bannon tampil berurutan. Namun, kesamaan keduanya berhenti pada diagnosis mengenai risiko AI. Ketika pembicaraan masuk ke solusi, perbedaan politik mereka kembali terlihat jelas.

Satu Panggung, Dua Kutub Politik

Sanders adalah senator independen dari Vermont yang selama bertahun-tahun mengusung agenda progresif dan mengkritik ketimpangan ekonomi serta besarnya kekuasaan korporasi. Bannon berada pada kutub berbeda. Ia pernah menjadi kepala strategi Gedung Putih pada masa jabatan pertama Trump dan masih menjadi salah satu suara penting dalam lingkungan politik MAGA.

The New York Times dalam laporan pada Selasa, 15 September 2026, menyebut penampilan berurutan Sanders dan Bannon menyoroti meningkatnya kegelisahan terhadap kemampuan AI yang berkembang cepat. Media tersebut mencatat kekhawatiran tentang AI kini melampaui garis pemisah politik tradisional, meski Washington belum memiliki konsensus mengenai bentuk kebijakan nasional yang harus ditempuh.

Bannon bahkan mengakui jurang politik yang memisahkan dirinya dengan Sanders. Ia mengatakan keduanya berada di sisi berlawanan dalam banyak persoalan, tetapi persoalan AI menurutnya menuntut perdebatan yang melampaui partisan.

Reuters pada Selasa, 15 September 2026, mengutip Bannon yang mengatakan AS perlu terlebih dahulu memperlambat laju perkembangan AI agar dapat memahami apa yang sebenarnya sedang terjadi. Ia juga memuji paparan Sanders mengenai berbagai risiko teknologi tersebut.

Pertemuan itu, dengan demikian, bukan pembentukan koalisi politik baru antara Sanders dan Bannon. Tidak ada pengumuman mengenai kerja sama legislatif di antara keduanya. Mereka bertemu pada kekhawatiran yang sama, tetapi membawa resep politik yang berbeda.

Sanders Ingin Larang AI Supercerdas

Sanders mengambil posisi regulasi yang jauh. Ia bersama anggota DPR Demokrat asal Texas, Greg Casar, telah mengumumkan rencana Ban Artificial Superintelligence Act pada Kamis, 3 September 2026.

Berdasarkan pengumuman resmi kantor Sanders, proposal tersebut akan melarang secara permanen pengembangan dan penerapan AI supercerdas serta menghentikan sementara pengembangan AI tingkat lanjut hingga regulator federal menetapkan aturan keselamatan dan proses peninjauan model. Proposal itu juga menghendaki pembentukan lembaga federal baru untuk mengawasi teknologi AI.

Dalam rancangan tersebut, kategori AI supercerdas antara lain didefinisikan sebagai sistem yang melampaui kecerdasan manusia atau mempunyai kemampuan yang dipandang dapat mengancam kendali manusia dan pemerintahan. Proposal Sanders-Casar juga mengarahkan AS untuk mengejar kesepakatan internasional guna mencegah pengembangan sistem semacam itu di negara lain.

NPR melaporkan pada Selasa, 15 September 2026, Sanders mengatakan di hadapan peserta Pro-Human Assembly bahwa RUU tersebut akan diajukan secara formal pada pekan berikutnya. Dengan demikian, pengumuman rencananya telah dilakukan pada 3 September, sedangkan proses pengajuan legislatifnya disebut Sanders akan menyusul.

Sanders juga menyoroti minimnya keterlibatan masyarakat dalam menentukan arah perkembangan AI. “Meski hidup dalam apa yang disebut demokrasi, publik nyaris tidak memiliki masukan terhadap revolusi AI yang sedang mengubah dunia,” kata Sanders, sebagaimana diberitakan NPR pada Selasa, 15 September 2026. Ia juga mengkritik Kongres dari kedua partai yang menurutnya terlalu lambat merespons perkembangan tersebut.

Sanders mengatakan salah satu kekhawatiran terbesarnya adalah potensi hilangnya pekerjaan dalam skala besar. Reuters pada Selasa, 15 September 2026, mengutip Sanders yang memperingatkan AI berpotensi menghilangkan puluhan juta pekerjaan dan bahkan menghapus sejumlah profesi.

Pernyataan tentang konsekuensi tersebut merupakan peringatan Sanders mengenai kemungkinan perkembangan AI, bukan perkiraan resmi jumlah pekerjaan yang dipastikan akan hilang.

Read Entire Article
Berita Republika | International | Finance | Health | Koran republica |