Klub Nilai IWL Jadi Harapan Baru Ekosistem Sepak Bola Wanita Indonesia

9 hours ago 7

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA — Indonesia Women’s League (IWL) yang dijadwalkan bergulir mulai 17 Oktober 2026 di Stadion Soemantri Brodjonegoro, Kuningan, Jakarta Selatan, mendapat sambutan positif dari klub peserta. Kompetisi tersebut dinilai dapat menjadi pijakan penting untuk membangun ekosistem sepak bola wanita Indonesia yang lebih berkelanjutan dan profesional.

Commercial and Operational Director Persita Evelyn Chaty mengatakan, kehadiran IWL menjadi jawaban atas penantian klub, pemain, dan pelatih terhadap kompetisi sepak bola putri yang konsisten. Menurut dia, liga tersebut bukan sekadar menyediakan panggung pertandingan, tetapi juga membuka jalur karier yang lebih jelas bagi generasi muda putri yang ingin menekuni sepak bola secara profesional.

"Hadirnya Indonesia Women's League merupakan langkah yang sangat penting bagi perkembangan sepak bola wanita di Indonesia," ujar Evelyn dalam keterangannya di Jakarta, Jumat (14/8/2026).

Ia menilai keberadaan kompetisi yang teratur akan memberikan pemain kesempatan untuk berkembang sekaligus mengejar cita-cita menjadi pesepak bola profesional. Karena itu, Persita memandang partisipasi di IWL sebagai bagian dari upaya bersama membangun fondasi sepak bola wanita nasional, bukan sekadar mengikuti kompetisi baru.

Evelyn mengingatkan, pengembangan sepak bola wanita merupakan proses jangka panjang yang tidak dapat diukur hanya dari satu musim. Regulasi dan kebijakan kompetisi, kata dia, perlu memperhatikan keberlanjutan klub, terutama dari sisi operasional dan finansial.

Ia juga mendukung penerapan sistem drafting pemain untuk menjaga keseimbangan kekuatan enam tim peserta, selama mekanismenya transparan dan memberikan kesempatan yang adil.

Dari sisi penyelenggaraan, konsep tersentralisasi di satu venue, Stadion Soemantri Brodjonegoro dinilai cukup realistis untuk musim perdana. Sistem terpusat dapat meningkatkan efisiensi, menjaga kualitas lapangan, mempermudah koordinasi pertandingan, sekaligus mengurangi kompleksitas logistik yang harus ditanggung klub.

Persita pun menyatakan komitmennya untuk menyediakan lingkungan profesional bagi para pemain. Hal itu mencakup kontrak, fasilitas latihan, layanan medis, nutrisi, hingga manajemen tim yang disesuaikan dengan tahap perkembangan klub.

Pandangan senada disampaikan pemilik Persikad Dolly Abdullah. Ia mengapresiasi keterlibatan Persikad sejak awal pembentukan IWL dan menyebut kompetisi tersebut sebagai gagasan positif dari PSSI, Erick Thohir, Vivin Cahyani, para Exco, dan I-League.

"Gagasan yang positif dari PSSI, Pak Erick, Bu Vivin, para Exco dan juga I-League karena Persikad sudah dilibatkan sejak awal kelahiran IWL," kata Dolly.

Dolly juga menilai sistem drafting tepat diterapkan pada fase awal kompetisi karena dapat membantu menciptakan keseimbangan kekuatan sekaligus mendukung pembinaan pemain muda. "Dengan drafting dan pembagian pemain timnas akan terjadi keseimbangan, serta pembinaan berkelanjutan bagi pemain-pemain muda putri," ujarnya.

Selain aspek teknis, sistem pertandingan terpusat dinilai memiliki potensi komersial. "Bermain dengan sistem centralized ini bagus dalam banyak hal. Pertama, menekan cost, kedua kita bangun ekosistem baru di Soemantri sehingga akan menjadi hub. Ketiga itu juga bagus untuk sponsor," tutur Dolly.

Persikad, kata dia, siap memenuhi standar profesional, termasuk kontrak, gaji, tempat tinggal pemain, dan program latihan. Dengan dukungan operator serta PSSI pada musim perdana, klub juga akan menyiapkan strategi pemasaran untuk menarik mitra komersial. Ke depan, IWL diharapkan mampu berkembang menjadi kompetisi yang semakin mandiri sekaligus membuka peluang bisnis baru bagi sepak bola wanita Indonesia.

Read Entire Article
Berita Republika | International | Finance | Health | Koran republica |