Perempatan Giwangan, Setengah Tujuh Pagi

4 hours ago 5

Image Dewi yuniasih

Lentera | 2026-08-14 07:44:57

Desain:AI

Perempatan Giwangan, setengah tujuh pagi.

Orang-orang berkerumun. Motor, mobil dan manusia bergerak dalam satu arus yang padat. Semua menunggu satu hal yang sama: lampu hijau.

Ketika lampu berubah, semuanya melaju. Tidak ada yang benar-benar peduli siapa yang berada di sampingnya. Masing-masing sibuk menuju tempat tujuan sendiri. Ada yang mengejar waktu, ada yang mengejar pekerjaan, ada yang mengantar anak, ada yang takut terlambat.

Pemandangan sederhana itu tiba-tiba mengingatkanku pada padang Mahsyar.

Bukan karena tempatnya sama. Tentu tidak.

Tetapi karena ada sesuatu yang terasa serupa: kerumunan manusia yang masing-masing sibuk dengan urusannya sendiri.

Di Perempatan Giwangan, kita berkumpul tetapi tidak saling mengenal. Kita berdiri berdekatan, tetapi pikiran kita berada pada tujuan masing-masing.

Ada yang memikirkan rapat pagi ini. Ada yang menghitung menit agar tidak terlambat. Ada yang memikirkan pekerjaan yang belum selesai. Ada yang mungkin sedang memikirkan keluarga di rumah.

Lalu lampu hijau menyala.

Semua bergerak.

Cepat.

Menuju tujuan masing-masing.

---

Di padang Mahsyar, kelak manusia juga akan berkumpul. Tetapi kali itu tidak ada tujuan dunia yang sedang dikejar. Tidak ada kantor yang harus dituju. Tidak ada rapat yang menunggu. Tidak ada anak yang harus diantar.

Masing-masing akan sibuk dengan dirinya sendiri.

Yang tersisa bukan lagi pertanyaan, “Apakah aku terlambat masuk kantor?”

Melainkan pertanyaan yang jauh lebih besar:

“Bagaimana aku mempertanggungjawabkan perjalanan hidupku?”

Pagi itu, di atas kendaraan, aku tiba-tiba merasa bahwa kehidupan memang sering memberi kita gambaran kecil tentang sesuatu yang jauh lebih besar.

Setiap hari kita terburu-buru.

Takut terlambat.

Takut kehilangan kesempatan.

Takut tidak sampai pada tujuan.

Padahal ada satu tujuan yang sering justru kita persiapkan paling sedikit.

Di perempatan, kita menunggu lampu hijau dengan sabar. Kita tahu bahwa setelah lampu menyala, kita harus segera bergerak agar tidak tertinggal arus.

Mungkin hidup juga seperti itu.

Ada waktunya menunggu.

Ada waktunya bergerak.

Dan ada waktunya perjalanan berhenti.

Yang membuatku cemas bukan lagi sekadar apakah pagi ini akan tiba di tempat tujuan tepat waktu.

Tetapi apakah selama perjalanan ini aku sedang menuju tujuan yang benar.

---

Perempatan Giwangan, setengah tujuh pagi.

Orang-orang kembali bergerak ketika lampu hijau menyala.

Aku pun melanjutkan perjalanan.

Tetapi pagi itu, ada satu pertanyaan yang ikut berjalan bersamaku:

Jika suatu hari nanti aku benar-benar berada di tengah kerumunan manusia di Padang Mahsyar, apa yang sudah kubawa dari perjalanan dunia ini?

Mungkin, setiap pagi ketika kita berangkat menuju tujuan masing-masing, sesekali kita memang perlu mengingat bahwa pada akhirnya kita semua sedang menuju satu tempat yang sama.

Dan ketika waktunya tiba, tidak ada lagi lampu hijau untuk memberi kesempatan berbalik arah.

Bantul, 14 Agustus 2026

Disclaimer

Retizen adalah Blog Republika Netizen untuk menyampaikan gagasan, informasi, dan pemikiran terkait berbagai hal. Semua pengisi Blog Retizen atau Retizener bertanggung jawab penuh atas isi, foto, gambar, video, dan grafik yang dibuat dan dipublished di Blog Retizen. Retizener dalam menulis konten harus memenuhi kaidah dan hukum yang berlaku (UU Pers, UU ITE, dan KUHP). Konten yang ditulis juga harus memenuhi prinsip Jurnalistik meliputi faktual, valid, verifikasi, cek dan ricek serta kredibel.

Read Entire Article
Berita Republika | International | Finance | Health | Koran republica |