
Oleh: Asep Shodiqin Maulana, Wadek III Dakwah dan Komunikasi UIN Bandung, Alumni Pondok Pesantren Bahrul Ulum Tambakberas Jombang.
REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Ada saat ketika sebuah tempat tidak lagi sekadar menjadi ruang geografis, melainkan berubah menjadi ruang sejarah. Pondok Pesantren Bahrul Ulum Tambakberas, Jombang, adalah salah satunya. Karena itu, penyelenggaraan Muktamar ke-35 Nahdlatul Ulama di pesantren ini bukan sekadar keputusan administratif organisasi, tetapi sebuah ikhtiar mengembalikan ingatan kolektif warga Nahdliyin kepada mata air perjuangannya.
Bagi saya yang pernah belajar di Tambakberas, keputusan itu menghadirkan keyakinan bahwa NU sedang diajak pulang: pulang kepada adab, ilmu, ukhuwah, dan khidmat yang diwariskan para muassis, terutama KH Abdul Wahab Chasbullah.
Pulang kepada akar bukan berarti berjalan mundur. Justru dari akar yang kokohlah pohon mampu menjulang tinggi. Al-Qur'an mengingatkan, "Wa'tashimū bi hablillāhi jamī'an wa lā tafarraqū" (QS. Ali 'Imran [3]: 103), berpeganglah kamu semuanya kepada tali Allah dan jangan bercerai-berai. Ayat ini bukan sekadar seruan spiritual, tetapi fondasi sosial yang kemudian diterjemahkan para pendiri NU menjadi gerakan persatuan ulama dan umat. Dalam suasana Muktamar, ayat tersebut menemukan relevansinya kembali. Perbedaan pandangan adalah keniscayaan, tetapi persaudaraan adalah kewajiban.
Prinsip itu menjadi jiwa Qanun Asasi Nahdlatul Ulama yang disusun KH Hasyim Asy'ari pada 1926. Dalam mukadimahnya beliau mengingatkan bahwa kemunduran umat lahir ketika tali persaudaraan terputus dan para ulama tercerai-berai. Sebaliknya, kebangkitan hanya mungkin terjadi melalui persatuan, musyawarah, dan kesetiaan kepada Al-Qur'an, Sunnah, ijma', serta qiyas. Karena itulah NU didirikan bukan untuk mengejar kekuasaan, melainkan menjaga agama (hifzh al-din), merawat umat, dan menghadirkan kemaslahatan.
Di antara para pendiri itu, KH Abdul Wahab Chasbullah tampil sebagai ulama visioner. Beliau memahami bahwa ilmu yang tidak bergerak akan kehilangan daya ubah. Dari gagasan itulah lahir Taswirul Afkar, Nahdlatul Wathan, Nahdlatut Tujjar, hingga akhirnya Nahdlatul Ulama. Seruan beliau yang kemudian dikenal luas, "Ayo obah!", bukan sekadar slogan, melainkan metodologi peradaban. Bergerak berarti menghidupkan pendidikan, menguatkan ekonomi umat, mempererat ukhuwah, dan menghadirkan Islam sebagai rahmat bagi seluruh alam.
Sebagai alumni Tambakberas, saya merasakan bahwa pesan paling kuat yang diwariskan Mbah Wahab bukanlah retorika, melainkan keteladanan. Di pesantren, kami belajar bahwa ilmu harus melahirkan pengabdian. Seorang santri tidak hanya dituntut pandai membaca kitab, tetapi juga siap menyapu halaman, melayani tamu, membantu masyarakat, dan menghormati guru. Semua itu merupakan praktik nyata dari hadis Nabi SAW, "Khairunnas anfa'uhum linnas", sebaik-baik manusia adalah yang paling bermanfaat bagi manusia. Dari sinilah lahir watak khadim al-ummah, pelayan umat, bukan pencari penghormatan.
Nilai itu diperdalam dalam Adab al-'Alim wa al-Muta'allim. KH Hasyim Asy'ari menegaskan bahwa penuntut ilmu harus membersihkan niat, memuliakan guru, menghormati ilmu, serta menjauhkan diri dari kesombongan. Beliau mengingatkan bahwa keberkahan ilmu lebih ditentukan oleh adab daripada kecerdasan. Tidak mengherankan jika pesantren selama berabad-abad mampu melahirkan ulama yang disegani bukan karena kekuasaan, melainkan karena akhlaknya. Tradisi itulah yang masih terasa hidup di Tambakberas.
Disclaimer: Pandangan yang disampaikan dalam tulisan di atas adalah pendapat pribadi penulisnya yang belum tentu mencerminkan sikap Republika soal isu-isu terkait.

17 hours ago
12










































