Direksi AMMN Ramai-Ramai Tambah Kepemilikan Saham

8 hours ago 9

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA – Jajaran direksi PT Amman Mineral Internasional Tbk (AMMN) kompak menambah kepemilikan saham di tengah harga saham perseroan yang masih terkoreksi sepanjang tahun ini. Aksi insider buying senilai sekitar Rp17 miliar tersebut dinilai menjadi sinyal positif terhadap prospek jangka panjang perusahaan, meski belum menjamin harga saham akan segera berbalik naik.

Berdasarkan keterbukaan informasi di Bursa Efek Indonesia (BEI), Direktur Utama AMMN Arief Sidarto membeli 1,6 juta saham pada 30 Juni 2026 dengan harga Rp3.105 per saham atau senilai sekitar Rp4,97 miliar.

Direktur AMMN Anthony Mathias kemudian mengakumulasi 1,69 juta saham pada 1-2 Juli 2026 di kisaran harga Rp3.120 hingga Rp3.510 per saham dengan nilai transaksi sekitar Rp5,6 miliar.

Aksi serupa dilakukan Direktur Aditya Sasmito yang membeli 850 ribu saham pada 6 Juli 2026 seharga Rp3.530 per saham atau sekitar Rp3 miliar. Sementara itu, Direktur Lal Naveen Chandra membeli 1 juta saham pada harga Rp3.565 per saham sehingga total kepemilikan sahamnya meningkat menjadi 53.161.300 lembar.

Seluruh transaksi tersebut telah dilaporkan kepada Otoritas Jasa Keuangan (OJK) dan BEI sesuai Peraturan OJK Nomor 4 Tahun 2024. Dalam keterbukaan informasi disebutkan tujuan transaksi tersebut adalah investasi pribadi.

Senior Technical Analyst Mirae Asset Sekuritas Indonesia M Nafan Aji Gusta mengatakan, aksi pembelian saham oleh beberapa direksi dalam waktu yang hampir bersamaan dapat dipandang sebagai sinyal kolektif bahwa manajemen masih meyakini prospek bisnis perusahaan.

“Gerakan borong saham yang dilakukan jajaran direksi AMMAN ini bisa mengindikasikan bahwa manajemen melihat prospek masa depan perusahaan yang positif, dengan kinerja bisnis yang solid. Terlebih saat ini pasar sedang tertekan oleh sentimen makro dan capital outflow asing, yang tidak mencerminkan fundamental atau kondisi bisnis perusahaan yang sebenarnya,” ujar Nafan, Rabu (8/7/2026).

Pandangan tersebut sejalan dengan riset BRI Danareksa Sekuritas yang memberikan rekomendasi beli dengan target harga Rp6.000 per saham. Analis BRI Danareksa Andhika Audrey Eko Nugroho memproyeksikan AMMN memasuki fase pertumbuhan pada 2026 seiring peningkatan produksi Fase 8 Tambang Batu Hijau serta optimalisasi fasilitas smelter tembaga dan Precious Metal Refinery (PMR).

Dalam riset tersebut, pendapatan AMMN diperkirakan mencapai sekitar 4 miliar dolar AS pada 2026 atau meningkat 117 persen dibandingkan tahun sebelumnya. EBITDA juga diproyeksikan tumbuh 97 persen menjadi sekitar 2 miliar dolar AS.

Di sisi lain, harga saham AMMN masih berada dalam tekanan. Hingga 6 Juli 2026, saham perseroan turun sekitar 44,28 persen sejak awal tahun ke level Rp3.580 per saham. Namun dalam satu bulan terakhir, saham AMMN mulai pulih dengan kenaikan sekitar 8 persen.

Menurut Nafan, pergerakan saham AMMN turut didukung prospek harga komoditas, terutama tembaga dan emas, yang masih menguat di pasar global.

“Dari sisi fundamental, kinerja operasional Amman dalam beberapa tahun terakhir masih relatif solid. Hal tersebut menunjukkan bahwa perusahaan memiliki daya tahan yang cukup baik dalam menghadapi berbagai tantangan, termasuk volatilitas harga komoditas maupun dinamika ekonomi global,” kata Nafan.

Read Entire Article
Berita Republika | International | Finance | Health | Koran republica |