Jejak Perlawanan Ayatullah Khamenei terhadap Zionis

19 hours ago 11

REPUBLIKA.CO.ID, TEHERAN — Meskipun dilakukan dua kekuatan, yakni Israel dan Amerika Serikat, pembunuhan pemimpin tertinggi Iran Ayatullah Ali Khamenei jelas lebih menguntungkan siapa. Selama empat dekade di pucuk pimpinan, Ayatullah Ali Khamenei menempatkan dukungan terhadap perjuangan bangsa Palestina dan perlawanan terhadap Israel sebagai salah satu pilar utama kebijakan luar negeri Teheran. 

Sejak resmi menggantikan Ayatullah Ruhollah Khomeini pada 1989, Khamenei konsisten menyuarakan penolakan terhadap eksistensi negara Israel dan memperkuat narasi perlawanan terhadap penjajahan yang dialami bangsa Palestina. Ini bukan sekadar slogan retoris, tetapi juga terwujud dalam kebijakan politik, dukungan strategis kepada kelompok perlawanan, serta tajamnya kritik terhadap negara-negara Barat yang mendukung Tel Aviv.

Dalam pidato Hari Quds yang dipublikasikan kantor resminya pada 2020, ia menyatakan, “Rezim Zionis adalah tumor ganas dan harus dicabut serta dihancurkan.”

Dalam kerangka ideologi Revolusi Islam, sikap anti‐Zionis bukan hanya soal politik realpolitik, tetapi menjadi bagian dari doktrin moral yang dikembangkan oleh Khamenei. Dalam berbagai pidato publiknya, ia berulang kali menolak keberadaan rezim Israel, menyebutnya sebagai “pasukan teroris yang menindas hak rakyat Palestina”. 

Bahkan pada peringatan dan pidato resmi seperti Hari Quds yang diadakan setiap Jumat terakhir bulan Ramadhan, Khamenei menyatakan bahwa perang terhadap Israel adalah “perang melawan penindasan dan terorisme” yang menjadi kewajiban moral bagi dunia Muslim.

Khamenei tidak pernah menyuarakan dukungan terhadap ‘solusi damai’ dalam bentuk normalisasi hubungan; sebaliknya, ia menegaskan penolakan terhadap negosiasi dengan Israel dan menolak solusi yang menurutnya hanya memberi keuntungan kepada penjajah. Pada Juni 2025, Khamenei menegaskan bahwa respons terhadap serangan Israel akan terus dilakukan dan Iran sama sekali tidak akan berunding dengan rezim Zionis tersebut. 

Dalam pidato yang dikutip kantor berita resmi IRNA, Khamenei menegaskan, “Perlawanan adalah satu-satunya jalan. Negosiasi dengan rezim Zionis tidak akan membawa kebebasan bagi Palestina.” Pernyataan ini muncul di tengah meningkatnya normalisasi hubungan sejumlah negara Arab dengan Israel beberapa tahun terakhir.

Dukungan Tehran terhadap Palestina juga diaktualisasikan melalui diplomasi publik. Khamenei dan pemerintahan Iran secara rutin menyelenggarakan konferensi internasional untuk mendukung perjuangan bangsa Palestina dalam meraih kemerdekaan. Misalnya, pada Februari 2017, Iran menjadi tuan rumah Konferensi Internasional ke-6 Mendukung Perjuangan Bangsa Palestina, di mana Khamenei mengimbau negara-negara dan pencari kemerdekaan di seluruh dunia untuk membantu rakyat Palestina. 

Ia mengatakan, “perlawanan rakyat Palestina terhadap pendudukan Israel adalah panjang dan berharga,” menekankan perlunya solidaritas tanpa pamrih terhadap perjuangan tersebut.

Perjanjian Abraham yang Kontroversial

Ketika beberapa negara Arab menandatangani kesepakatan normalisasi dengan Israel melalui Abraham Accords, Khamenei mengkritiknya secara terbuka. Dalam pidato 2020 yang dimuat kantor berita Tasnim, ia menyebut langkah tersebut sebagai “pengkhianatan terhadap dunia Islam dan Palestina”.

Baginya, legitimasi Israel berarti mengabaikan penderitaan rakyat Palestina. Dalam satu kesempatan ia berkata, “Siapa pun yang berjabat tangan dengan rezim Zionis, pada hakikatnya menikam bangsa Palestina dari belakang.”

Read Entire Article
Berita Republika | International | Finance | Health | Koran republica |