Papua Selatan Kini Jadi Andalan Baru Produksi Pangan Nasional

14 hours ago 14

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA – Kementerian Pertanian (Kementan) mencatat pengembangan kawasan pangan di Tanah Papua hingga 2026 telah mencapai 137.429 hektare. Program tersebut terdiri atas 83.030 hektare cetak sawah dan 54.399 hektare optimalisasi lahan (oplah), dengan Papua Selatan menjadi pusat pengembangan terbesar.

Data Kementan menunjukkan, Papua Selatan mengembangkan 48.934 hektare program cetak sawah dan 53.499 hektare optimalisasi lahan atau lebih dari 100 ribu hektare kawasan produksi pangan. Wilayah ini diproyeksikan menjadi pusat produksi pangan di kawasan timur Indonesia sekaligus menopang target swasembada pangan nasional.

Menteri Pertanian Andi Amran Sulaiman mengatakan, program pengembangan kawasan pangan memberikan dampak langsung terhadap peningkatan kesejahteraan masyarakat.

“Program ini milik rakyat, milik masyarakat putra daerah Papua. Jangan ada yang mengatasnamakan masyarakat mengatakan tidak setuju, karena faktanya setelah program berjalan pendapatan masyarakat naik hingga 300 persen. Bahkan sekarang masyarakat justru meminta tambahan cetak sawah,” kata Amran saat melakukan tanam padi bersama petani di Desa Waninggap Kai, Kecamatan Semangga, Kabupaten Merauke, Papua Selatan, Sabtu (4/7/2026).

Selain Papua Selatan, pengembangan kawasan pangan juga dilakukan di sejumlah provinsi lain. Papua mengembangkan 24.248 hektare, Papua Barat Daya 4.675 hektare, Papua Barat 3.373 hektare, dan Papua Pegunungan 2.000 hektare.

Menurut Amran, meningkatnya permintaan pembukaan sawah baru menunjukkan tingginya antusiasme masyarakat terhadap program tersebut. Pemerintah akan terus melanjutkan pengembangan kawasan pangan sesuai kebutuhan petani di daerah.

Amran mengatakan, pemerintah juga bergerak cepat mengatasi berbagai kendala di lapangan. Saat menerima laporan kekurangan pasokan solar untuk operasional pertanian, Kementan langsung berkoordinasi dengan Pertamina agar kebutuhan petani segera terpenuhi.

“Begitu mendapat laporan kekurangan solar, kami langsung berkoordinasi dengan Pertamina dan kuotanya siap ditambah. Yang penting kebutuhan petani terpenuhi agar aktivitas di lapangan tidak terganggu,” ujarnya.

Kementan mencatat produktivitas pertanian di Merauke mulai meningkat. Indeks pertanaman naik dari 1,05 menjadi 1,82 hingga 2,00, diikuti peningkatan produktivitas padi, luas panen, produksi beras, serta pendapatan petani.

Pemerintah juga membangun ekosistem pertanian modern melalui penyediaan alat dan mesin pertanian, benih unggul, pembangunan irigasi, pembentukan brigade pangan, serta pendampingan kepada petani.

“Sekarang petani Merauke sudah mampu mengoperasikan alat pertanian modern. Teknologi yang digunakan negara-negara maju kini juga digunakan di Papua untuk meningkatkan produktivitas dan kesejahteraan petani,” kata Amran.

Gubernur Papua Selatan Apolo Safanpo mengatakan, Merauke menjadi tulang punggung pengembangan pangan di Tanah Papua. Lebih dari separuh program cetak sawah dan hampir seluruh program optimalisasi lahan di kawasan tersebut berada di Kabupaten Merauke.

Menurut Apolo, Pemerintah Provinsi Papua Selatan siap mendukung proyek strategis nasional di sektor pangan guna memperkuat ketahanan pangan sekaligus mendorong Papua Selatan menjadi lumbung pangan, bahkan pengekspor beras pada masa mendatang.

Read Entire Article
Berita Republika | International | Finance | Health | Koran republica |