Trump Klaim Perang Selesai, Ajak Iran Berunding

11 hours ago 6

REPUBLIKA.CO.ID, WASHINGTON — Amerika Serikat (AS) akhirnya memilih jalur perundingan dengan Republik Islam Iran. Presiden Donald Trump dalam konfrensi persnya, Selasa (24/3/2026) waktu AS, mengatakan perang dengan Iran akan berakhir.

Trump mengeklaim kemenangan atas perang tersebut setelah meyakini apa yang menjadi misi dan tujuannya menginvansi Iran telah tercapai. Kata dia, perundingan dan negosiasi penghentian perang dengan pemimpin negara Para Mullah tersebut, pun sedang diupayakan.

“AS telah ‘menang’ di Iran,” kata Trump seperti dikutip dari Aljazirah, Rabu (25/3/2026) dini hari. “Saya pikir kita akan mengakhirinya,” sambung dia.

Namun begitu, kata Trump, dirinya juga tak dapat memberikan jaminan apakah proses perundingan dan negosiasi penghentian perang dengan Iran kali ini bakal menghasilkan satu kepastian yang benar-benar dapat menghentikan peperangan. “Saya tidak dapat memberi tahu Anda dengan pasti,” kata Trump.

Trump mengatakan, penghentian perang yang diinginkannya dengan Iran kali ini karena AS sudah mencapai tujuan awalnya. Trump mengatakan tujuan memerangi Iran untuk melakukan perubahan kepemimpinan di Teheran sudah berhasil.

Trump juga mengatakan, tujuan AS menginvansi Iran agar tak punya kesempatan melakukan pengayaan uranium untuk memproduksi persenjataan nuklir pun sudah tercapai. Karena itu, kata Trump sudah saatnya melakukan negosiasi dan perundingan.

“Kami sedang dalam tahap negosiasi saat ini,” kata Trump. Dalam konfrensi pers tersebut, Trump menyampaikan empat anggota tim negosiator AS yang akan berunding dengan Iran untuk penghentian perang.

Mereka di antaranya adalah Wakil Presiden AS JD Vance, Menteri Luar Negeri AS Marco Rubio, dan dua orang kepercayaannya termasuk menantunya, Steve Witkoff dan Jared Kushner. Dalam konfrensi pers tersebut, Trump tak ada membahas tentang partisipasi Israel dalam rencana perundingan dengan Iran.

Peperangan AS terhadap Iran kali ini, sebetulnya menyertakan Zionis Israel sebagai agresor. AS-Zionis membuka peperangan pada Sabtu (28/2/2026) lalu dengan membombardir Ibu Kota Teheran. Dalam serangan pertama itu, Pemimpin Tertinggi Wali Agung Iran Ayatullah Ali Khameni syahid bersama isteri, anak, dan menantunya, serta cucu perempuannya.

Sejumlah tokoh dan pemimpin militer Iran juga gugur. Penyerangan pertama AS-Zionis itu juga membombardir sekolah anak-anak perempuan yang membuat sedikitnya 175 orang meninggal dunia.

Iran bertahan dengan membalas serangann ke wilayah pendudukan Israel di Tanah Palestina dengan menembakkan drone serbu, dan misil-misil berdaya ledak besar. Militer Iran juga membombardir pangkalan-pangkalan militer AS, termasuk aset-aset ekonomi Paman Sam yang tersebar di Arab Saudi, Qatar, Kuwait, Bahrain, Uni Emirate Arab, Yordania, juga di Irak. Perlawanan balasan dari Iran itu yang membuat perang dengan AS-Zionis membesar ke negara-negara Teluk Arab dan mengancam Timur Tengah (Timteng).

Perang semakin melebar setelah faksi pejuang Hizbullah di Lebanon turut membantu Iran dengan menembakkan roket-roket tempur ke wilayah pendudukan Zionis Israel di utara Palestina. Hingga saat ini, Rabu (25/3/2026) peperangan sudah memasuki pekan ke-4 atau hari ke-26.

Namun sejak perang memasuki hari ke-3, Iran melakukan blokade, dan penutupan terbatas terhadap Selat Hormuz. Langkah Iran itu mengguncang stabilitas ekonomi dunia. Karena Selat Hormuz merupakan perairan lalu lintas minyak fosil dan gas cair global.

Perairan di celah Teluk Persia itu mengendalikan 22 persen dari seluruh pasokan minyak fosil dan gas cair dunia. Iran hanya mengizinkan kapal-kapal tanker berbendera negara sahabat yang boleh melintas.

Korps Garda Revolusi Islam (IRGC) memasang ranjau laut, dan bakal menghabisi atau melarang melintas kapal-kapal tanker berbendera negara-negara yang membantu AS dan Israel. Blokade Selat Hormuz itu mengerek naik harga komoditas minyak, dan gas dunia ke level tinggi. 

Presiden Trump sempat mengajak negara-negara di Eropa, dan negara-negara anggota Pakta Pertahanan Atlantik Utara (NATO) untuk membantu AS dan Israel merebus Selat Hormuz. Trump juga minta tolong dengan China, Jepang, Korea Selatan (Korsel), juga Australia untuk mengirimkan kapal perang membantu AS-Zionis membebaskan Selat Hormuz.

Akan tetapi negara-negara itu tak ada yang bersedia ikut-ikutan perang melawan Iran. Trump, pun sempat marah dan mengancam akan menyerang seluruh pembangkit listrik, dan fasilitas energi milik Iran, jika tetap menutup Selat Hormuz.

Tetapi Iran tetap bergeming. Hingga kini militer Iran masih tetap menutup Selat Hormuz. Pada Senin (23/3/2026) Trump mengumumkan penundaan serangan besar-besarannya terhadap Iran, karena sudah ada perundingan untuk membicarakan penghentian perang. T

api Iran menanggapi dingin penyampaian Trump itu. Otoritas di Teheran memastikan tak ada pembicaraan dengan Washington terkait penghentian perang. Iran menegaskan akan tetap melakukan perlawanan setimpal terhadap agresi AS-Zionis.

Read Entire Article
Berita Republika | International | Finance | Health | Koran republica |